Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengecam ancaman Trump bahwa "sangat salah," sementara Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan negaranya tidak akan "diperas." Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang menyebut ancaman tersebut "tak dapat diterima," berencana meminta Uni Eropa mengaktifkan alat balasan dagang terkuatnya, yang disebut instrumen anti-koersi.
Reaksi paling langsung dan nyata dari Uni Eropa adalah mereka akan menghentikan persetujuan kesepakatan dagang Juli mereka dengan AS, yang masih membutuhkan persetujuan dari Parlemen Eropa. Partai Rakyat Eropa, kelompok terbesar di parlemen, mengatakan akan bergabung dengan partai lain untuk memblokir ratifikasi perjanjian tersebut.
"Presiden Trump memicu longsoran yang mengancam akan menghancurkan kerja sama transatlantik selama beberapa dekade," kata Stefan Lofven, Ketua Partai Sosialis Eropa, dalam pernyataan pada Minggu.
Partai, yang kelompok parlemennya merupakan terbesar kedua di Brussels, tersebut mendukung penangguhan perjanjian dagang dan mendesak Uni Eropa untuk mempertimbangkan penggunaan instrumen anti-koersi.
Perjanjian dagang, yang banyak dikritik di Eropa karena terlalu menguntungkan Washington, membuat Uni Eropa setuju menghapus hampir semua tarif pada produk AS.
Uni Eropa juga dipungut tarif 15% atas sebagian besar ekspor ke AS dan 50% atas baja dan aluminium. AS sejak itu memperluas daftar barang yang termasuk dalam tarif 50% lebih tinggi hingga mencakup ratusan produk tambahan yang mengandung logam tersebut.
Uni Eropa menyetujui tarif balasan pada produk AS senilai €93 miliar, tetapi menangguhkan pelaksanaannya. Jika Trump melanjutkan ancamannya dan mengenakan bea masuk pada negara-negara tersebut awal Februari, Uni Eropa akan mengizinkan balasan tersebut diberlakukan kembali, kata sumber yang berbicara dengan syarat anonim.
Langkah-langkah tersebut akan menargetkan barang-barang industri AS, termasuk pesawat Boeing Co, mobil buatan AS, dan bourbon.
Ancaman tarif Trump akan menjadi gangguan yang tidak diinginkan bagi reli harga saham Eropa, yang telah mengungguli pasar saham AS karena investor berbondong-bondong ke berbagai sektor regional, mulai dari pertahanan hingga pertambangan dan pembuat peralatan semikonduktor.
Prospek kawasan ini didorong oleh peningkatan pengeluaran fiskal Jerman, suku bunga yang lebih rendah, dan ekspektasi akan peningkatan laba.
Jika Trump melanjutkan ancaman tarif 25% secara penuh, hal itu akan mengurangi ekspor negara-negara sasaran ke AS hingga 50%. Menurut perkiraan Bloomberg Economics, Jerman, Swedia, dan Denmark paling rentan.
Ancaman Macron untuk menggunakan instrumen anti-koersi (ACI) akan menandai eskalasi besar-besaran oleh Uni Eropa.
ACI, yang belum pernah digunakan, dirancang terutama sebagai pencegah, dan jika diperlukan, untuk menanggapi tindakan paksaan yang disengaja dari negara ketiga yang menggunakan perdagangan sebagai senjata untuk menekan kebijakan Uni Eropa atau anggotanya.
Langkah tersebut bisa mencakup tarif, pajak baru pada perusahaan teknologi, atau pembatasan investasi di Uni Eropa. Mereka juga dapat melibatkan pembatasan akses ke bagian tertentu pasar Uni Eropa atau pembatasan perusahaan untuk mengajukan penawaran kontrak publik di Eropa.
"Komisi harus segera mengaktifkan instrumen anti-koersi dan dewan harus mengizinkan penerapan tarif balasan pada impor AS," kata Ignacio Garcia Bercero, mantan pejabat senior Komisi Eropa yang bertanggung jawab atas negosiasi dagang dengan AS.
"Jika tidak mampu menunjukkan solidaritas bagi Denmark dan negara-negara anggota yang menjadi sasaran, Uni Eropa akan kehilangan kredibilitas atau legitimasinya."
Menteri Keuangan AS Scott Bessent hampir menepis ancaman Uni Eropa untuk menghentikan kesepakatan tarif yang dicapai antara Trump dan blok tersebut tahun lalu, mengatakan kepada NBC News bahwa Presiden AS menggunakan pengaruh strategis untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Eropa menunjukkan kelemahan, AS menunjukkan kekuatan," katanya, Minggu. "Para pemimpin Eropa akan menyadari dan memahami bahwa mereka perlu berada di bawah payung keamanan AS."
Apa Kata Bloomberg Economics...
"Tarif Trump—termasuk tarif yang sudah ada dan tambahan 10%—akan mengurangi ekspor dari negara-negara yang menjadi sasaran ke AS hingga 50%."
—Nicole Gorton-Caratelli, Antonio Barroso, dan Maeva Cousin.
Tarif Trump akan berlaku bagi Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Hal ini terjadi saat protes diadakan di seluruh Denmark yang dengan tegas menentang kendali AS atas Greenland.
Menariknya, Trump mengumumkan tarifnya setelah negara-negara tersebut—beberapa merupakan sekutu terlama AS dan semua anggota NATO—menyatakan hanya akan mengirim puluhan tentara ke Greenland untuk berpartisipasi dalam latihan perencanaan bersama.
Memang, tim pengintai militer Jerman yang tiba di Greenland pada Jumat telah kembali setelah betugas selama 44 jam di pulau Arktik tersebut, seperti dilaporkan surat kabar Bild pada Minggu.
Senator Republik AS Thom Tillis dan Demokrat Jeanne Shaheen mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak pemerintahan Trump untuk "menghentikan ancaman dan beralih ke diplomasi."
Ketua bersama kelompok NATO di Senat menulis, "Melanjutkan jalan ini buruk bagi Amerika, buruk bagi bisnis Amerika, dan buruk bagi sekutu Amerika."
Kepala NATO Mark Rutte, yang berusaha menjalin hubungan dekat dengan Trump, mengatakan dalam unggahan media sosial pada Minggu bahwa ia telah berbicara dengan presiden tentang Greenland dan ia "menantikan untuk bertemu dengannya di Davos akhir pekan ini." Rutte akan bertemu dengan Menteri Pertahanan Denmark dan Menteri Luar Negeri Greenland di Brussels pada Senin.
(bbn)



























