Ia menambahkan, berdasarkan pernyataan sejumlah petinggi Danantara dalam berbagai wawancara dan forum publik, investasi yang dilakukan bersifat crowded in atau mengambil sebagian pangsa pasar agar tidak mengganggu pelaku usaha swasta yang telah mapan.
“Sehingga masuknya Danantara tidak mengganggu perusahaan swasta yang sudah establish,” ujar Faris.
Terkait lonjakan harga saham tekstil dalam beberapa hari terakhir, Faris menyebut sentimen rencana pembentukan BUMN tekstil dapat menjadi salah satu pemicunya, meskipun belum menjadi satu-satunya faktor penentu.
“Mengenai pertanyaan apakah kenaikan ini lebih dipicu oleh sentimen rencana pembentukan BUMN, point of view kami bisa iya, bisa tidak. Yang jelas, agar kenaikannya sustain perlu ada penilaian dari sisi kinerja dari perseroan itu sendiri,” kata Faris.
Ia menilai sentimen positif terbentuk karena partisipasi Danantara di sektor tekstil dipersepsikan pelaku pasar sebagai sinyal kepercayaan yang dapat mendorong keterlibatan sektor swasta.
Sebelumnya, pemerintah menyiapkan pendanaan sebesar US$6 miliar atau sekitar Rp100 triliun melalui BPI Danantara untuk membentuk BUMN baru di sektor tekstil. Langkah ini merupakan bagian dari strategi penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional di tengah tekanan global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pembentukan kembali BUMN tekstil merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
“Kita pernah mempunyai BUMN tekstil, dan ini akan dihidupkan kembali sehingga pendanaan US$6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara,” ujar Airlangga, dikutip Minggu (18/1/2026).
Airlangga menyampaikan pemerintah telah menyelesaikan studi awal dan akan melanjutkan dengan penyusunan peta jalan penguatan industri tekstil nasional. Pendanaan tersebut akan dialokasikan untuk pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, serta peningkatan kapasitas ekspor.
“Oleh karena itu sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita yang dari US$4 miliar, bisa naik ke US$40 miliar dalam 10 tahun, dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil,” jelas Airlangga.
Ia juga mengakui bahwa rantai nilai industri tekstil nasional masih memiliki kelemahan, khususnya pada segmen benang, kain, dyeing, printing, dan finishing, sehingga pembentukan BUMN tekstil diharapkan mendorong modernisasi dan integrasi hulu-hilir.
Seiring berkembangnya sentimen tersebut, saham-saham tekstil mencatatkan penguatan pada perdagangan Senin (19/1/2026). Saham PT Argo Pantes Tbk (ARGO) naik 13,99% ke level Rp1.385/saham, dengan kenaikan mingguan mencapai 32,54%.
PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) melonjak 34,55% dan diperdagangkan di level Rp148/saham. Dalam sepekan, saham BELL tercatat naik 97,33%.
Sementara itu, saham PT Sunson Manufakture Tbk (SSTM) naik 5,11% ke level Rp3.290/saham, dengan kenaikan mingguan sebesar 65,90%. Saham PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) juga menguat 34,75% ke level Rp256/saham dan mencatatkan kenaikan 139,25% dalam sepekan.
(dhf)




























