Laporan tersebut setidaknya menangkap ruang lingkup jika dalam dua tahun ke depan akan banyak masyarakat semakin skeptis bahwa lingkungan ekonomi yang ada mampu memberikan perbaikan nyata terhadap penghidupan mereka.
Persepsi tersebut, pada akhirnya berkontribusi pada meningkatnya ketegangan sosial dan menguatnya narasi “rakyat versus elite”.
"Meningkatnya narasi ‘rakyat versus elite’ mencerminkan kekecewaan yang semakin mendalam terhadap struktur tata kelola tradisional, yang membuat banyak warga merasa tersisih dari proses pengambilan keputusan politik," papar mereka.
Mereka juga memaparkan dampak negatif dari AI yang turut masuk dalam tiga besar risiko Indonesia. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran pelaku usaha bahwa adopsi AI—jika tidak diimbangi kesiapan regulasi, keterampilan tenaga kerja, dan tata kelola—berpotensi memperlebar kesenjangan, mengganggu pasar kerja, dan menciptakan disrupsi baru dalam struktur ekonomi nasional.
Hal ini pada akhirnya juga akan kembali menuju ke risiko perlambatan ekonomi atau economic downturn dan inflasi.
"Ini juga akan membuat masyarakat semakin skeptis bahwa lingkungan ekonomi mereka mampu memberikan perbaikan nyata terhadap penghidupan mereka."
(lav)






























