Logo Bloomberg Technoz

Sejalan dengan capaian rekor IHSG tersebut, Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksikan pergerakan IHSG cenderung bergerak konsolidasi pada pekan perdagangan 19-23 Januari 2026. IPOT memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support di level 9.000 dan resistance di 9.200.

“Fokus pasar akan beralih pada serangkaian rilis data dan keputusan kebijakan global dan domestik,” ujar Equity Analyst IPOT Imam Gunadi dalam keterangan resmi, dikutip Senin (19/1/2026).

Dari dalam negeri, Imam menyampaikan bahwa perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga BI, yang diperkirakan tetap menahan BI-Rate di level 4,75% dengan fokus utama menjaga stabilitas nilai tukar.

Sementara dari Amerika Serikat, pasar akan mencermati rilis US Core PCE Price Index dengan konsensus proyeksi sebesar 2,7% yoy, yang menjadi indikator inflasi utama acuan kebijakan The Federal Reserve.

Dari kawasan Asia, perhatian pelaku pasar juga mengarah ke China, khususnya rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 yang diperkirakan tumbuh 4,4% yoy. Data tersebut dinilai penting untuk mengukur ketahanan ekonomi China di tengah berlanjutnya stimulus moneter.

Pengunjung melintas di depan layar pergerakan harga saham (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (15/1/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean)

“Data penjualan ritel dan tingkat pengangguran Desember (2025) juga perlu dicermati untuk membaca kekuatan konsumsi domestik dan kondisi pasar tenaga kerja,” ujar Imam.

Selain itu, pasar juga akan memperhatikan keputusan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun dan lima tahun di China, di tengah sinyal People’s Bank of China (PBOC) yang membuka ruang pelonggaran lanjutan, meskipun konsensus pasar memperkirakan suku bunga akan tetap.

Pada penutupan perdagangan Kamis (14/01), IHSG tercatat menguat 1,55% ke level 9.075. Dalam periode sepekan, investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp3,2 triliun. “Arus dana asing yang kembali masuk ini mencerminkan respons positif terhadap stabilitas makro domestik di tengah volatilitas global,” ujar Imam.

Ia menambahkan, sepanjang pekan lalu pasar global cenderung bergerak positif di tengah keseimbangan antara stabilnya data ekonomi AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

“Namun, sentimen pasar global terganggu oleh eskalasi risiko perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap barang-barang dari sejumlah negara Eropa, dengan ancaman kenaikan hingga 25 persen mulai Juni dan terkait sengketa Greenland,” ujar Imam.

Kebijakan tersebut, lanjutnya, memicu respons keras dari Uni Eropa, termasuk potensi pembatalan kesepakatan dagang AS–Uni Eropa (UE) yang dicapai pada Juli lalu.

“Hingga akhir pekan, dasar hukum dan mekanisme penerapan tarif tersebut masih belum jelas, menjaga ketidakpastian di pasar global,” ujarnya.

Di tengah dinamika global tersebut, kinerja indikator domestik Indonesia menunjukkan perbaikan. Penjualan ritel Indonesia pada November 2025 tercatat tumbuh 6,3% yoy, meningkat dari bulan sebelumnya dan menjadi pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024.

“Pertumbuhan terjadi pada berbagai kategori, termasuk makanan dan minuman, suku cadang otomotif, serta barang rekreasi. Secara bulanan, penjualan ritel meningkat 1,5%, menjadi laju tertinggi dalam delapan bulan terakhir,” ujar Imam.

Selain itu, realisasi Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia pada kuartal IV-2025 tumbuh 4,3% yoy menjadi Rp256,3 triliun, berbalik arah dari kontraksi pada kuartal sebelumnya. Sepanjang 2025, total FDI relatif stabil di level Rp900,9 triliun, dengan sektor logam dasar dan pertambangan menjadi tujuan utama investasi.

Sementara dari China, surplus perdagangan tercatat mencapai 1,189 triliun dolar AS sepanjang 2025, dengan ekspor tumbuh 5,5% yoy dan impor relatif stagnan. Pergeseran tujuan ekspor ke Uni Eropa dan Asia Tenggara menjadi pendorong utama, di tengah menurunnya surplus perdagangan China dengan AS.

Dari sisi domestik, pertumbuhan kredit China masih tertahan dengan outstanding yuan loan growth berada di level 6,4% yoy, terendah sepanjang sejarah, meskipun money supply M2 meningkat 8,5% yoy ke level tertinggi. Merespons kondisi tersebut, PBOC menegaskan masih terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga dan giro wajib minimum (GWM).

(dhf)

No more pages