MoU tersebut diteken dalam rangka mempersiapkan peluncuran komersial atas seluruh rantai nilai baterai hulu hingga hilir yang terintegrasi di Indonesia pada 2028.
“Kami akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam pengembangan ekosistem baterai terintegrasi, guna memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara dan Masyarakat,” kata Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin dalam keterangan tertulis yang sama.
Adapun, IBC bekerja sama dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Brunp, Lygend (CBL) untuk membentuk perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), dalam menggarap pabrik baterai mobil listrik terintegrasi tersebut.
CATIB saat ini sedang membangun fasilitas produksi sel baterai, modul, dan paket baterai untuk kendaraan EV dengan kapasitas awal 6,9 giga watt hour (GWh) pada fase pertama dan akan diekspansi hingga mencapai kapasitas total 15 GWh pada fase kedua.
Proyek tersebut dibangun di kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Kabupaten Karawang dengan total luas 43 hektar (ha) yang terdiri atas 2 fasilitas utama. Pertama, module & pack (MP) plant dan cell plant.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan pabrik baterai listrik terintegrasi garapan konsorsium yang dipimpin CATL beroperasi pada semester I-2026.
Proyek rakitan baterai kendaraan listrik itu menjadi bagian hilir dari kesepakatan kerja sama CATL bersama dengan IBC, yang belakangan disebut dengan Proyek Dragon.
Investasi raksasa baterai China itu pada Proyek Dragon dilakukan lewat CBL, usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.
“Khusus untuk hilirisasi nikel, ekosistem baterai mobil yang tahun kemarin di-groundbreaking oleh bapak Presiden Prabowo di Karawang yang punya CATL direncanakan pada semester I-2026 itu sudah kita resmikan,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (8/1/2026).
Proyek Dragon diperkirakan menelan investasi US$6 miliar atau sekitar Rp98,58 triliun (asumsi kurs Rp16.430 per dolar AS).
Belakangan, IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandantangani sejumlah usaha patungan atau joint venture (JV) pada beberapa tahap bisnis baterai setrum itu dari sisi hulu atau upstream tambang, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.
Di sisi hulu, terbentuk 3 usaha patungan di antaranya PT Sumber Daya Arindo (SDA), yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL).
Selanjutnya, usaha patungan di sisi rotary kiln electric furnace (RKEF) dan kawasan industri lewat PT Feni Haltim (PFT), dengan porsi saham Antam 40%.
Sementara itu, Antam memegang saham 30% untuk usaha patungan pabrik hidrometalurgi atau high pressure acid leach (HPAL).
Selanjutnya, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang.
IBC cenderung memiliki saham minoritas pada lini kerja sama midstream sampai hilir ini.
IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai. Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai.
(bbn)





























