Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa membatasi aliran minyak mentah Venezuela adalah cara krusial untuk terus memberikan tekanan bagi para pemimpin negara tersebut. Senada dengan itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan pekan lalu bahwa blokade AS terhadap minyak Venezuela yang "terkena sanksi dan terlarang" tetap berlaku di seluruh dunia.
Penyitaan terbaru ini terjadi di tengah jadwal pertemuan penting antara Presiden Donald Trump dengan Maria Corina Machado, pemimpin oposisi Venezuela sekaligus peraih Nobel Perdamaian. Machado tengah berupaya memperbaiki hubungan dengan Trump guna memperkuat posisinya di Washington.
Di sisi lain, Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, juga berencana mengirim utusan ke Washington untuk bertemu dengan pejabat senior AS pada Kamis waktu setempat. Pada Rabu lalu, Trump mengaku telah melakukan pembicaraan telepon yang "sangat positif" dengan Rodriguez dan memuji kerja samanya dengan pemerintah AS.
Laporan mengenai penyitaan ini pertama kali diangkat oleh Wall Street Journal.
Pemerintahan Trump berencana untuk mengendalikan penjualan minyak Venezuela di masa depan tanpa batas waktu dan menyimpan hasilnya di rekening-rekening milik AS. Trump menyatakan bahwa Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyaknya untuk dijual oleh AS, dengan estimasi nilai mencapai US$2,8 miliar (sekitar Rp47 triliun) berdasarkan harga pasar saat ini.
Perusahaan perdagangan komoditas raksasa, Vitol Group dan Trafigura Group, dilaporkan telah menerima kiriman perdana sebanyak 4,83 juta barel untuk dijual atas nama pemerintah AS. Trump menegaskan bahwa hasil dari penjualan minyak mentah tersebut akan diperuntukkan bagi kepentingan Amerika Serikat dan rakyat Venezuela.
(bbn)





























