Logo Bloomberg Technoz

Terkait potensi tantangan dalam proses pengembangan proyek, INDY menyebut hingga saat ini tidak terdapat kendala teknis maupun operasional yang mengganggu pencapaian target produksi komersial awal 2027. Namun demikian, perusahaan tetap mencermati berbagai faktor eksternal.

“Sampai dengan saat ini pengembangan project Awak Mas berjalan sesuai dengan rencana dan target yang telah ditetapkan, tentu saja faktor eksternal akan menjadi tantangan dan mendapat perhatian khusus seperti bencana alam, social/community issues dan hal-hal lainnya,” katanya.

Sebelumnya, manajemen INDY mengungkapkan tengah menyiapkan tambahan fasilitas kredit perbankan guna mendukung kebutuhan pendanaan proyek Awak Mas.

Direktur INDY Johanes Ispurnawan menyatakan bahwa perseroan telah memperoleh indikasi fasilitas pembiayaan dari empat bank senilai US$375 juta pada Juni 2025, namun peluang peningkatan nilai pinjaman masih terbuka seiring potensi kenaikan biaya pengembangan.

“Untuk pendanaan proyek Awak Mas, pada bulan Juni kemarin itu kami baru mendapatkan indikasi dari empat bank sebesar US$375 juta. Dengan asumsi bahwa development cost akan meningkat, saat ini kami juga sedang berbicara dengan beberapa bank. Potensi, kemungkinan kita akan upsize loan tersebut,” ujar Ispurnawan dalam paparan publik, Kamis (27/11/2025).

Selain pembiayaan eksternal, INDY juga mempertimbangkan pemanfaatan arus kas internal. Manajemen memastikan bahwa belanja modal (capex) 2026 akan difokuskan pada penyelesaian konstruksi proyek Awak Mas.

“Untuk Capex 2026 masih dalam tahap finalisasi. Tetapi yang bisa dipastikan adalah mayoritas capex tahun depan adalah untuk penyelesaian pengembangan proyek Awak Mas,” ujarnya.

Proyek Awak Mas merupakan bagian dari strategi jangka menengah INDY untuk meningkatkan kontribusi bisnis non-batubara, dengan target 50% pendapatan berasal dari segmen tersebut pada 2028. Tambang emas ini ditargetkan memasuki fase trial produksi pada Desember 2026 dan beroperasi secara komersial mulai kuartal I-2027.

Proyek tersebut dikembangkan melalui PT Masmindo Dwi Area, yang mengelola tiga wilayah tambang—Awak Mas, Tarra, dan Salu Bulo, di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dengan total luas konsesi 14.390 hektare.

Saat ini, area pengembangan aktif mencapai 1.444 hektare. Masmindo mengantongi Kontrak Karya hingga 2050 yang dapat diperpanjang menjadi IUPK hingga 2070.

Awak Mas dirancang menggunakan metode penambangan terbuka (open pit) dengan teknologi pengolahan carbon in leach (CIL). Proyek ini memiliki potensi sumber daya emas sebesar 2,55 juta ons, dengan cadangan terukur dan terbukti mencapai 1,51 juta ons. Target produksi awal dipatok sekitar 100.000 ons per tahun, dengan estimasi biaya produksi di atas US$1.150 per ons.

(dhf)

No more pages