Antusiasme terhadap teknologi kecerdasan buatau atau artificial intelligence (AI) memicu kenaikan besar di pasar ekuitas. Di tengah penerbitan utang yang kuat, kawasan Asia Timur dan Pasifik menyaksikan arus masuk modal yang besar, didominasi oleh arus utang.
“Namun, di Indonesia, gejolak politik singkat dan pelonggaran kebijakan moneter yang dipercepat menyebabkan arus keluar modal dan depresiasi rupiah, yang membutuhkan intervensi bank sentral,” demikian tercantum dalam laporan Bank Dunia, Rabu (14/1/2026).
Kondisi Perdagangan Global
Terkait kondisi perdagangan internasional, hambatan perdagangan yang lebih tinggi dan penghapusan kebijakan penundaan ekspor pada beberapa waktu lalu diperkirakan akan memperlambat pertumbuhan ekspor di seluruh wilayah Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia, selama periode 2026.
Namun, dampaknya akan lebih kecil dari yang diperkirakan sebelumnya, karena peningkatan pengiriman barang dari China ke pasar non-AS dan permintaan semikonduktor yang didorong oleh AI, yang seharusnya mendukung ekspor di banyak ekonomi Asia Timur dan Pasifik.
Meskipun demikian, prospek perdagangan bergantung pada perkembangan di masa mendatang terkait tarif dan akses pasar. Perjanjian perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat kemungkinan akan memicu perubahan pada pola perdagangan di kawasan tersebut, tergantung pada tarif relatif antar negara dan sektor.
(lav)




























