Namun koreksi harga emas tertahan oleh rilis data ekonomi terbaru di Amerika Serikat (AS). US Bureau of Labor Statistics mengumumkan, inflasi AS pada Desember 2025 tercatat 2,7% secara tahunan (year-on-year/yoy). Laju tersebut tidak berubah, sama dengan posisi bulan sebelumnya.
Sementara inflasi inti (core) pada Desember 2025 berada di 2,6% yoy. Juga sama dengan bulan sebelumnya, dan bahkan lebih rendah ketimbang ekspektasi pasar yang memperkirakan di 2,7% yoy.
Data tersebut menunjukkan bahwa inflasi di Negeri Adidaya tidak meninggi. Ini bisa menjadi dasar bagi bank sentral Federal Reserve untuk melanjutkan pelonggaran moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas terasa lebih menguntungkan saat suku bunga bergerak turun.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini, Rabu (14/1/2025)? Apakah bisa naik lagi atau kembali terkoreksi?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas masih betah di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 69. RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish.
Sementara indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 58. Menghuni area beli (long) yang kuat.
Untuk perdagangan hari ini, harga emas masih berisiko turun. Cermati pivot point di US$ 4.579/troy ons.
Dari situ, harga emas bisa saja menguji support US$ 4.526/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5. Support berikutnya ada di MA-10 yakni US$ 4.457/troy ons.
Namun kalau ternyata harga emas naik, maka target resisten terdekat adalah US$ 4.605/troy ons. Jika tertembus, maka ada peluang mengetes rentang US$ 4.624-4.671/troy ons.
(aji)





























