Sepanjang 2025, harga emas memperbarui rekor tertinggi sebanyak lebih dari 50 kali.
Lantas bagaimana prospek harga emas untuk 2026? Apakah rekor demi rekor akan kembali tercipta?
Mengutip riset World Gold Council (WGC), emas tidak lagi bergantung pada ketatnya pasar fisik. Melainkan dari peran makronya, yaitu permintaan berkelanjutan bank sentral, kebutuhan lindung nilai di tengah kebijakan yang tidak pasti, serta permintaan diversifikasi ketika korelasi saham dan obligasi masih tinggi.
Berdasarkan riset WGC, ada sejumlah sentimen yang akan menggerakkan harga emas, dan pasar keuangan secara keseluruhan. Pertama adalah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan tarif yang digaungkan Presiden Donald Trump. Putusan ini kemungkinan keluar pada awal 2026.
“Putusan yang mengesahkan tarif, terlepas dari adanya kemungkinan pelonggaran jangka pendek akan memperkuat risiko kebijakan dan mempertegas kepentingan lindung nilai. Sebaliknya, putusan yang membatasi tarif dapat menekan premi kebijakan.
“Di sisi lain, tarif juga berfungsi sebagai bantalan parsial bagi prospek fiskal. Jika bantalan ini dihilangkan, fokus pasar diperkirakan akan kembali ke isu defisit dan premi tenor. Meski dampaknya terhadap emas lebih kompleks, kami percaya kedua skenario tersebut tetap dapat suportif bagi emas,” jelas riset WGC.
Sentimen kedua, tambah riset WGC, adalah arah kebijakan moneter terutama di AS. Ada kemungkinan bank sentral Federal Reserve akan melanjutkan pelonggaran moneter dengan menurunkan suku bunga acuan pada tahun ini, meski rasanya tidak akan seagresif 2025.
“Secara historis, penurunan suku bunga kumulatif sebesar 175 basis poin (bps) atau lebih biasanya diiringi penurunan imbal hasil (yield) obligasi, kecuali pada akhir 1990-an. Kesamaannya saat ini adalah optimisme terhadap pertumbuhan yang digerakkan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tetapi dengan ekspektasi inflasi yang jauh lebih tinggi.
“Walaupun ekspektasi suku bunga yang lebih kuat dapat menahan minat jangka pendek terhadap emas dari sebagian investor, dampak inflasinya tetap diperkirakan mendukung dalam jangka menengah,” terang laporan tersebut.
Sentimen ketiga, demikian riset WGC, adalah konflik geopolitik seperti yang terjadi di Venezuela. Saat situasi bergejolak, biasanya aset aman seperti emas menjadi buruan pelaku pasar.
“Melihat pergerakan emas dalam beberapa minggu terakhir, emas tampaknya mengambil peran sebagai investasi aman yang paling banyak dipilih,” tulis riset WGC.
Skenario 2026
WGC menyebut ada beberapa skenario harga emas untuk 2026. Pertama adalah perlambatan. Harga emas masih naik, tetapi laju pertumbuhan melambat.
Dalam skenario shallow dip ini, data ekonomi masih variatif tetapi cenderung menuju perlambatan. Risk appetite pelaku pasar akan turun, dan aset-aset aman menjadi buruan.
Di skenario ini, harga emas bisa naik 5-15% pada 2026 dibandingkan level 2025. Kenaikan itu sejatinya cukup solid. Namun jika melihat pencapaian 2025, maka menjadi tidak terlalu tinggi.
Skenario kedua diberi nama doom loop. Di skenario ini, ekonomi global kompak mengalami perlambatan
Di skenario kedua ini, harga emas diperkirakan bisa melonjak 15-30% pada 2026 dibandingkan level 2025. Kombinasi penurunan yield, tensi geopolitik yang meninggi, serta perilaku flight to safety akan mengerek harga emas.
Akan tetapi, WGC juga menawarkan skenario di mana harga emas bisa turun tahun ini. Skenario itu diberi sebutan reflation return.
Dalam skenario bearish ini, ada kemungkinan kebijakan tarif Trump menuai hasil positif. Pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam akan terdongkrak. The Fed pun akan menahan atau bahkan mungkin menaikkan suku bunga acuan.
“Hasilnya, yield akan naik dan dolar AS menguat. Kenaikan yield dan apresiasi dolar AS akan menaikkan opportunity cost jika memegang emas. Perbaikan ekonomi juga akan meningkatkan risk appetite di pasar,” jelas laporan WGC.
Kenaikan yield, penguatan dolar AS, dan peralihan ke aset-aset berisiko akan menjadi beban bagi gerak harga emas. Jika terjadi, maka WGC memperkirakan harga emas tahun ini bisa turun 5-20% dari posisi 2025.
(aji)






























