Kendatipun demikian, pelemahan nilai tukar rupiah masih bisa menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia. Terutama bagi perusahaan-perusahaan yang berbasis ekspor.
Sebagai gambaran PT Mayora Indah Tbk (MYOR) yang merupakan perusahaan bergerak di bidang pengolahan makanan, dan minuman. MYOR melanjutkan bisnisnya yang berorientasi ekspor.
Juga PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) yang merupakan perusahaan produsen komponen otomotif yang berfokus pada penjualan ekspor dengan 3 produk utama, yaitu, filter – dengan merek Sakura, produk radiator dengan merek ADR, serta unggulan di karoseri.
Perusahaan–perusahaan yang berbasis ekspor juga termasuk emiten komoditas, seperti halnya pertambangan batu bara, nikel, CPO, emas, dan lain–lain, serta komoditas turunannya.
Misalnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang merupakan perusahan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi berpotensi mendapat berkah saat dolar AS menggilas rupiah. Ditambah lagi dengan pendapatan perusahaan yang berbasis dolar AS.
Jauh dari sisi yang berseberangan, banyak juga saham emiten di Bursa Efek Indonesia sangat yang tertekan seiring pelemahan rupiah. Khususnya bagi emiten yang memiliki porsi utang menggunakan mata uang dolar AS.
Tidak terkait utang, emiten–emiten yang memerlukan bahan baku impor, serta emiten dengan beban operasional yang memerlukan dolar AS, turut ikut meringis ketika mata uang Ibu Pertiwi lesu.
Sebagai contoh yang memiliki utang dalam denominasi dolar adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Selain itu, INDF serta ICBP juga memerlukan impor bahan baku utama yaitu gandum untuk kebutuhan produksi berbagai produk.
Kemudian, emiten yang memiliki utang dan/atau beban operasional yang memerlukan dolar adalah perusahaan-perusahaan properti, otomotif, hingga telekomunikasi.
Sebut saja seperti PT Indosat Tbk (ISAT) yang memiliki kontrak atas kerja sama terhadap sejumlah perusahaan global, salah satunya dengan Cisco, menyabet kerja sama Sovereign Security Operations Center (SOC), menyusul peluncuran Indonesia AI Center of Excellence, yang disebut–sebut nilainya menggunakan mata uang dolar.
Terbaru, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebagai perusahaan telekomunikasi menjalin kerjasama strategis dengan perusahaan global solusi keamanan siber dan jaringan Fortinet, Inc. (Fortinet) sebagai langkah strategis dalam membangun kolaborasi untuk peningkatan infrastruktur digital, kemampuan SD-WAN, dan ketahanan keamanan siber hingga pemanfaatan teknologi Al.
Adapun emiten lain yang juga dirugikan atas pelemahan nilai rupiah adalah saham–saham farmasi. Diketahui bersama, perusahaan farmasi akan mengimpor bahan baku dengan biaya lebih mahal ketika rupiah melemah. Diantaranya ialah PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Indonesia Farma/Indofarma Tbk (INAF), dan PT Pyridam Farma Tbk (PYFA).
(fad/aji)






























