Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Kenaikan Harga Minyak US$1 Bebani APBN Rp6,8 T

Lisa Listiani
02 March 2026 16:12

Mari Elka Pangestu di Nusa Dua, Bali, Indonesia, Senin, 7 Oktober 2013. (SeongJoon Cho/Bloomberg)
Mari Elka Pangestu di Nusa Dua, Bali, Indonesia, Senin, 7 Oktober 2013. (SeongJoon Cho/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya situasi di Iran tak terhindarkan terutama usai penutupan Selat Hormuz.

Hal ini pun berpotensi menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ekonom sekaligus mantan Menteri Perdagangan, Marie Elka Pangestu, menyebut setiap kenaikan harga minyak akan langsung memengaruhi keseimbangan fiskal Indonesia.

“Jadi kalau mau tahu hitungannya kan US$1  harga minyak naik itu pengeluaran kita untuk subsidi minus yang kita terima untuk minyak itu Rp 6,8 triliun jadi dengan misalnya US$10 dolar harga yang naik dari US$70  asumsi sekarang itu sudah Rp68 triliun pengeluaran yang tambah di APBN.” kata Marie dalam Indonesia Economic Forum.


Menurut Marie, kenaikan harga minyak saat ini sudah terlihat dan menyentuh level US$78 per barel. Namun arah pergerakannya masih sangat bergantung pada durasi konflik serta kondisi jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.

“Dan apa yang akan terjadi setelah Hormuz sebetulnya? Itu yang akan lebih banyak kurang lebihnya akan mengganggu bukan hanya minyak, tapi juga seluruh perdagangan.” tambah Marie