Dari sisi gas, produksi siap jual sepanjang 2025 tercatat mencapai 951,8 ribu barel setara minyak per hari (mboepd), di bawah target APBN sebanyak 1.005 ribu mboepd.
“Untuk lifting gas bumi, kita bersyukur karena dari SKK Migas, dari Ditjen Migas, dari tim kita bahwa sekalipun di awal tahun terjadi dinamika yang tinggu untuk ada keinginan impor kurang lebih 40 kargo LNG, berkat kerja keras kita semua, pada 2025 tidak ada kita melakukan impor gas,” kata Bahlil.
Sepanjang 2025, produksi gas bumi Indonesia sebanyak 5.600 BBtud dimanfaatkan untuk konsumsi dalam negeri dengan porsi sebesar 69% atau 3.908 BBtud. Sementara itu, gas yang diekspor hanya sebesar 31% atau 1.9691 BBtud.
“Jadi seluruh produksi kita sebagian kita pakai untuk dalam negeri, sebagian untuk ekspor. Kenapa ini kita tidak lakukan untuk minyak? Untuk gas ini harus antara supply dan demand-nya sama, karena dia storage-nya tidak sebesar seperti minyak,” terang Bahlil.
Adapun, perincian pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri antara lain untuk kebutuhan hilirisasi di industri manufaktur dan pupuk sebanyak 37% atau 2.091 BBtud, dan kebutuhan domestik lain sebanyak 32% atau 1.817 BBtud.
Kebutuhan domestik lain tersebut mencakup serapan gas untuk bahan bakar gas (BBG), peningkatan produksi migas, ketenagalistrikan, gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), dan gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG).
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Prasetyo menyatakan Bahlil telah menyusun sejumlah strategi untuk meningkatkan lifting minyak Indonesia.
Salah satunya, dengan menggencarkan lelang wilayah kerja (WK) minyak dan gas (migas).
Dia mengungkapkan Kementerian ESDM sudah menyiapkan 75 blok migas yang akan dilelang guna meningkatkan produksi minyak Indonesia.
“Menteri ESDM melaporkan mengenai keberhasilan kita mencapai target lifting minyak sesuai target di APBN sebesar 605.000 barel per hari. Selanjutnya, juga beliau memaparkan mengenai target lifting minyak kita pada 2026,” kata Prasetyo dalam konferensi pers, usai retret Kabinet Merah Putih, di Hambalang, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026) petang.
(wdh)































