Logo Bloomberg Technoz

Situasi di Yaman Selatan saat ini berada di ambang konflik besar baru. Berdasarkan laporan BBC hingga Reuters, Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi baru saja mengeluarkan dekrit resmi yang memecat Aidarous al-Zubaidi, pemimpin STC, atas tuduhan "pengkhianatan tingkat tinggi" dan upaya merusak kemerdekaan republik.

Zubaidi dituding melarikan diri ke lokasi yang tidak diketahui setelah menolak ikut dalam penerbangan delegasi STC menuju Riyadh untuk pembicaraan damai pada Selasa malam. Juru bicara koalisi Saudi, Mayjen Turki al-Malki, mengungkapkan bahwa intelijen mendeteksi pergerakan pasukan besar di bawah kendali Zubaidi dari Aden menuju Provinsi al-Dhale.

Sebagai respons, jet tempur koalisi meluncurkan lebih dari 15 serangan udara "preventif" ke al-Dhale pada Rabu pagi. Serangan tersebut dilaporkan menelan setidaknya empat korban jiwa dari kalangan sipil. Pihak STC mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai eskalasi yang tidak dapat dibenarkan di tengah iklim dialog yang sedang diupayakan.

Keretakan Dua Kekuatan Teluk

Konflik ini tidak hanya melibatkan faksi lokal, tetapi juga memperdalam jurang pemisah antara dua sekutu utama di Teluk, yakni Arab Saudi dan UEA. Saudi sebelumnya memperingatkan bahwa gerak maju pasukan STC ke arah timur Yaman merupakan ancaman terhadap keamanan nasional kerajaan.

Di sisi lain, UEA telah sepakat untuk menarik sisa pasukannya dari Yaman setelah muncul ketegangan diplomatik dengan Saudi terkait pengiriman senjata ilegal. Meskipun delegasi STC tetap tiba di Riyadh di bawah pimpinan Sheikh Abdul Rahman al-Subaihi, ketidakhadiran Zubaidi dan serangan udara di al-Dhale menjadi tantangan berat bagi keberhasilan konferensi tersebut.

(del)

No more pages