Eniya menegaskan kementeriannya mendukung proyek pabrik bioetanol baru di Tanah Air. Apalagi, kata Eniya, pasokan molase atau tetes tebu di Indonesia melimpah dan belum seluruhnya dimanfaatkan.
“Kita mendorong sebanyak mungkin, secepat mungkin,” ujar Eniya.
“Soalnya sekarang itu molase yang ada di kita itu anjlok kan harganya. Terus saya mengeluarkan harga bioetanol itu kan Rp8.300an, sudah feasible banget untuk campuran di bensin,” lanjut dia.
Groundbreaking Danantara
Sebelumnya, pemerintah bakal memulai pembangunan atau groundbreaking enam proyek hilirisasi prioritas bulan ini.
CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani membeberkan proyek awal yang akan masuk tahap groundbreaking di antaranya Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), pabrik bioavtur di Cilacap, serta pabrik bioetanol di Banyuwangi.
“Tadi saya juga lapor ke Pak Presiden bulannya, tetapi kita bikin pada awal Januari kita groundbreaking di 6 [proyek],” kata Rosan kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (17/12/2025).
Rencanannya pabrik bioetanol garapan Pertamina New & Renewable Energy (NRE) dan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) bakal memanfaatkan bahan baku molase.
Pabrik bioetanol ini direncanakan memiliki kapasitas produksi sebesar 30.000 kl per tahun atau setara dengan 100 kiloliter per hari (KLPD).
Di sisi lain, Kementerian ESDM menargetkan pabrik pengolahan tebu di Merauke, Papua Selatan dapat memproduksi etanol sebesar 150.000-300.000 kiloliter (kl) per tahun.
Kementerian ESDM menargetkan pembangunan pabrik pengolahan tebu di Merauke itu rampung pada 2027. Rencanannya, pabrik itu akan mengolah tebu dari lahan seluas 2 juta ha yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Kebun Tebu di Distrik Jagebob, Merauke.
Pembukaan lahan 2 juta ha lahan tersebut sesuai dengan penugasan yang termaktub di dalam Keputusan Presiden (Keppres) No. 15/2024 tentang Satuan Tugas Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.
(azr/naw)




























