Pada tahun 2024, seorang mantan menteri mengatakan kepada Bloomberg bahwa ketergantungan Jepang pada China untuk seluruh rangkaian 17 logam tanah jarang telah turun menjadi 60% dari sebelumnya 80%-90%.
Laporan China Daily tersebut menyusul pengumuman resmi dari pemerintah yang melarang penjualan lebih dari 800 barang dwiguna pada militer Jepang, atau pada pengguna akhir yang bisa mendukung kemampuan militer negara tersebut—kategori yang biasanya mencakup logam tanah jarang.
Ancaman untuk memperluas pembatasan pada pelanggan sipil sekali lagi menyoroti bagaimana logam tanah jarang berat, yang digunakan sebagai bahan baku penting dalam magnet berdaya tinggi, tetap menjadi titik tekanan utama.
Lynas baru mulai mengirimkan unsur-unsur tersebut, terutama disprosium dan terbium, dalam volume relatif kecil pada pelanggan Jepang akhir tahun lalu. Pasokan lainnya hampir seluruhnya bergantung pada China.
Saham Lynas, tulang punggung strategi diversifikasi Jepang, melonjak hingga 16% di Sydney pada Rabu (7/1/2026).
Magnet logam tanah jarang digunakan secara luas di seluruh industri manufaktur modern, mulai dari mobil hingga ponsel dan rudal. Tekanan China terhadap pasokan sangat penting bagi kesuksesan Beijing dalam menekan pemerintahan Trump untuk masuk ke negosiasi yang pada akhirnya mengarah pada gencatan dagang antara kedua negara.
Namun demikian, Jepang kini dalam posisi yang lebih baik untuk menghadapi gangguan pasokan, dibandingkan dengan situasinya pada tahun 2010 dan situasi AS tahun lalu.
Negara ini memiliki produsen magnet sendiri, para produsennya telah didorong untuk membangun cadangan, dan industrinya berupaya secara khusus untuk mengurangi ketergantungan mereka pada logam tanah jarang berat.
(bbn)





























