Logo Bloomberg Technoz

Namun, para ahli mengaku kesulitan untuk mengantisipasi perilaku virus atau protein yang dirancang mesin dalam eksperimen nyata. Dalam sebuah pratinjau terbaru (preprint), para peneliti menggunakan model-model tersebut untuk mendesain ratusan kandidat genom fage dan mengeklaim berhasil menumbuhkan 16 virus yang berfungsi.

Akan tetapi, setiap fage hanya menginfeksi bakteri tertentu, dokter berharap kombinasi obat yang dirancang khusus dapat mengobati infeksi yang membandel sekaligus melindungi mikroba baik dan sel manusia.

Tinjauan klinis menggambarkan pasien dengan infeksi resisten antibiotik membaik usai memperoleh terapi fag eksperimental, saat obat standar dinilai gagal.

Dilema Penelitian Berpotensi Guna Ganda

Sementara itu, para ilmuwan memakai istilah penelitian terbaru ini adalah berpotensi guna ganda (dual-use research), yakni pekerjaan yang bisa membantu atau merugikan, tergantung pada niatnya untuk menggambarkan teknologi-teknologi canggih tersebut.

Mereka berpendapat, membatasi secara cermat genom dan racun mana yang muncul dalam data pelatihan merupakan penghalang keamanan pertama yang amat penting.

Tim Wittmann menunjukkan tool desain protein canggih bisa menulis ulang protein berbahaya menjadi sekuens baru dan tetap berfungsi, namun menghindari filter penyaringan standar.

Baca Juga: Grok AI Elon Musk Terindikasi Salah Gunakan Fitur, Komdigi Bertindak

Dengan bekerja sama dengan beberapa suplier DNA, mereka mengembangkan algoritma baru demgan fokus pada struktur dan fungsi protein guna signifikan meningkatkan deteksi sekuens yang disamarkan ini.

Upaya Global untuk Standar Keselamatan

The International Biosecurity and Biosafety Initiative for Science (IBBIS) menyatukan perusahaan dan regulator untuk memperbarui aturan screening, seiring perubahan teknologi dan kecerdasan buatan. Inggris juga sudah membentuk lembaga keamanan AI (AI-Safety Institute) untuk menguji model, mengevaluasi risiko, dan berbagi metode guna mengurangi penyalahgunaan.

Baca Juga: Karyawan di Negara Ini Gunakan AI Demi Ciptakan Work-Life Balance

Salah seorang ilmuwan yang terlibat dalam penelitan ini, Tessa Alexanian, menggambarkan pendekatan itu sebagai pendekatan yang fleksibel. “Program akses terbatas ini adalah sebuah eksperimen dan kami sangat ingin mengembangkan pendekatan kami,” kata dia.

Terlepas dari semua kekhawatiran tersebut, masih ada kesenjangan yang lebar antara desain genom digital dan rekayasa virus menular yang bisa menular di antara manusia. Penelitian fag terbaru menargetkan virus bakteri berukuran amat kecil, jauh lebih sederhana daripada patogen kompleks yang menyebabkan penyakit seperti influenza atau COVID-19.

Meski begitu, para ilmuwan tetap memerlukan fasilitas dengan pengamanan tinggi, pengawasan yang cermat, dan eksperimen selama beberapa bulan atau bertahun-tahun untuk menghasilkan organisme yang stabil dan dapat diprediksi.

Lebih khusus, kumpulan ilmuwan juga khawatir akibat kemajuan dalam otomatisasi, sintesis DNA, dan pemodelan ini dapat memperkecil hambatan-hambatan, sehingga menurunkan upaya yang dibutuhkan untuk mencoba proyek-proyek berbahaya.

(wep)

No more pages