Pernyataan ini disampaikan Wonjin Lee pada pameran elektronik dan teknologi informasi terbesar di dunia, Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas, di mana Samsung memamerkan jajaran produk elektroniknya mulai dari earbud nirkabel berukuran kecil hingga TV berukuran 130 inch.
Seperti kebanyakan merek yang berorientasi pada konsumen di pameran ini, Samsung mempromosikan visinya tentang jajaran produk yang lebih terhubung dan diperkuat oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) — sambil menghadapi kenaikan biaya produksi.
Baca Juga: Ramalan Chip Memori Langka Makin 'Nyaring'
Booming pembangunan pusat data AI telah menimbulkan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memori berbandwidth tinggi, produk yang menguntungkan ini telah mendorong harga saham Samsung dan produsen memori lainnya, SK Hynix Inc, ke level tertinggi baru, dan membatasi pasokan untuk penggunaan lain.
Merek-merek besar seperti Dell Technologies Inc dan Xiaomi Corp telah memperingatkan tentang kemungkinan kenaikan harga, sementara perusahaan lain seperti Lenovo Group Ltd mulai menimbun chip memori pada tahun lalu sebagai antisipasi. Counterpoint Research pada November lalu memperkirakan kenaikan harga sebesar 50% untuk modul memori hingga kuartal kedua tahun ini.
Samsung berada dalam posisi yang lebih baik dibandingkan pesaingnya yang tidak mampu memproduksi memori untuk produk mereka sendiri, dan Wonjin Lee memperkirakan perusahaan ini akan melampaui pasar secara keseluruhan.
“Kami lebih optimistis tentang prospek 2026 dibandingkan dengan apa yang kami alami tahun lalu,” katanya. “Smartphone, dengan kemunculan AI, saya pikir orang-orang sedang mempertimbangkan untuk meng-upgrade produk mereka agar dapat memanfaatkan teknologi baru tersebut.”
(bbn)































