Logo Bloomberg Technoz

Jika akurat, volume yang disebutkan Trump setara dengan sekitar 30 hingga 50 hari produksi minyak Venezuela sebelum diberlakukannya blokade parsial AS terhadap negara tersebut — angka yang jauh lebih rendah dibandingkan tingkat produksi historis. Dengan harga WTI saat ini, nilai minyak tersebut bisa mencapai hingga US$2,8 miliar.

Hingga saat ini, perwakilan Departemen Energi AS dan Gedung Putih belum memberikan detail lebih lanjut. Kementerian Informasi dan Perminyakan Venezuela juga tidak memberikan tanggapan.

Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, namun produksinya merosot tajam akibat puluhan tahun kurangnya perawatan serta hengkangnya banyak perusahaan minyak asing. Saat ini, Venezuela hanya menyumbang kurang dari 1% pasokan minyak global. Para analis menilai diperlukan waktu bertahun-tahun dan investasi miliaran dolar AS untuk memulihkan produksi secara signifikan.

Venezuela juga memiliki tumpukan minyak yang belum dikapalkan dan terus menumpuk di tangki penyimpanan maupun di atas kapal sewaan sejak blokade AS dimulai bulan lalu. Perusahaan minyak milik negara telah menyimpan jutaan barel minyak dan berpotensi kehabisan kapasitas penyimpanan dalam hitungan minggu, menurut perusahaan intelijen maritim Kpler.

“Bahkan di kisaran tertinggi, 30 hingga 50 juta barel terdengar besar secara politik, tetapi kecil secara ekonomi,” kata Haris Khurshid, kepala investasi Karobaar Capital LP. “Itu adalah aliran satu kali, bukan perubahan struktural pada pasokan.”

Sanksi telah menyebabkan ekspor minyak mentah Venezuela ke AS anjlok. (Sumber: Bloomberg)

Trump mengatakan dalam unggahannya bahwa minyak yang terkena sanksi tersebut “akan diambil oleh kapal penyimpanan dan dibawa langsung ke dermaga bongkar di Amerika Serikat.” Ia menambahkan bahwa Menteri Energi Chris Wright telah ditugaskan untuk mengeksekusi rencana tersebut “segera.”

Masih belum jelas perusahaan mana yang akan menangani minyak tersebut dan apakah pengelolaannya akan berada di bawah Chevron Corp. Perusahaan itu merupakan satu-satunya perusahaan AS yang masih memproduksi dan mengekspor minyak dari Venezuela berdasarkan pengecualian sanksi AS.

Perwakilan Chevron juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Secara terpisah, ABC melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah menyampaikan kepada pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, bahwa pemerintahannya harus bermitra secara eksklusif dengan AS dalam produksi minyak dan memprioritaskan AS dalam penjualan minyak mentah berat.

AS juga menuntut Venezuela untuk mengurangi hubungan ekonomi dengan China, Rusia, Iran, dan Kuba, menurut laporan ABC yang mengutip tiga sumber anonim yang mengetahui situasi tersebut. Langkah itu akan menandai pergeseran politik besar bagi Venezuela, yang dalam beberapa tahun terakhir sangat bergantung pada keempat negara tersebut untuk stabilitas ekonomi dan keamanan.

Sebelum penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro oleh AS pada akhir pekan lalu, China merupakan pembeli terbesar minyak mentah Venezuela di dunia dan penerima utama minyak negara Amerika Selatan itu yang dijual dengan harga sangat diskon.

Blokade AS yang masih berlangsung sebagian besar telah menghentikan perdagangan tersebut dan mendorong kenaikan harga penawaran bagi China. Pasukan AS secara khusus terus memburu kapal Bella 1, yang sejak itu beralih menggunakan bendera Rusia. Rusia kini telah mengirimkan sebuah kapal selam dan aset angkatan laut lainnya untuk mengawal kapal tersebut, demikian dilaporkan Wall Street Journal.

(bbn)

No more pages