Lighthouse company sendiri merupakan kategori emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp3 triliun.
BEI menempatkan perusahaan dengan skala besar ini sebagai salah satu fokus pengembangan pasar guna memperdalam likuiditas dan meningkatkan daya tarik pasar modal nasional.
Di sisi lain, BEI juga menetapkan sejumlah target kinerja untuk tahun 2026. Salah satunya adalah Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) yang diproyeksikan mencapai Rp15 triliun.
Target tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi makroekonomi domestik maupun global.
Selain itu, BEI membidik total 555 pencatatan efek sepanjang 2026, termasuk di dalamnya 50 perusahaan baru yang diharapkan melakukan IPO.
Dari sisi partisipasi investor, BEI menargetkan penambahan sebanyak 2 juta Single Investor Identification (SID) baru.
“BEI mengasumsikan nilai RNTH pada tahun 2026 pada angka Rp15 triliun. Dari sisi pencatatan, kami menargetkan 555 pencatatan efek di tahun 2026, di antaranya 50 saham baru,” kata Iman.
Sebagai catatan, BUMN tercatat tidak melakukan IPO di BEI dalam dua tahun terakhir.
Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa keputusan untuk melantai di bursa sepenuhnya berada di tangan masing-masing perusahaan, termasuk BUMN.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan regulator terus melakukan sosialisasi serta diskusi dengan BUMN dan anak usahanya guna meningkatkan pemahaman terkait mekanisme IPO.
“Keputusan untuk melakukan IPO sepenuhnya merupakan pertimbangan dan kebijakan bisnis masing-masing perusahaan,” ujar Inarno dalam keterangan tertulis, Jumat (12/12/2025).
(rtd/naw)





























