“Perseroan meyakini keterlambatan ini tidak akan menganggu keberlanjutan operasional secara keseluruhan dan berharap persetujuan RKAB 2026 dapat diterbitkan dalam waktu dekat,” kata dia.
Untuk diketahui, Vale saat ini tengah mengembangkan tiga tambang besar tersebar di Bahodopi, Pomalaa, dan Sorowako yang dikombinasikan dengan pembangunan fasilitas smelter.
Tambang Bahodopi menjadi salah satu proyek strategis perseroan dalam diversifikasi produk. Dengan masuknya Bahodopi ke tahap produksi, INCO bisa meningkatkan eksposur penjualan saprolit, yang sebelumnya bertumpu pada nickel matte.
Penjualan saprolit dari tambang Bahodopi dilakukan pada Juli 2025, dengan total penjualan bijih nikel saprolit mencapai 896.263 metrik ton basah per September 2025.
Setelah itu, proyek Pomalaa dijadwalkan menyusul pada kuartal II-2026, sedangkan Sorowako akan menjadi tahap akhir dari rangkaian ekspansi tambang Vale Indonesia. Ketiga tambang tersebut sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan.
Dalam pengembangan lini hilir, Vale bermitra dengan sejumlah pemain global untuk membangun fasilitas smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL).
Untuk proyek Pomalaa, Vale telah bekerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd. (Huayou) dan Ford Motor Co dalam pembangunan smelter.
Untuk Bahodopi, proyek dilakukan bersama GEM Hong Kong International Co. Ltd., serta Danantara. Sementara itu, di Sorowako, Vale kembali berkolaborasi dengan Huayou.
RKAB Dipangkas
Sebelumnya, Kementerian ESDM berencana untuk memangkas target produksi bijih nikel dalam RKAB 2026.
ESDM mensinyalir target produksi akan di sekitar kapasitas produksi smelter nikel yang saat ini tercatat sebesar 290 juta ton per tahun.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pemangkasan produksi tersebut dilakukan untuk mengurangi kondisi kelebihan pasokan nikel di pasar global.
"Kalau kapasitas sesuai dengan pabrik 290 [juta ton], sesuai dengan pabrik. Nanti seperti apa kita ini [lihat hasil akhirnya]," kata Tri ketika ditemui awak media di kantor Kementerian ESDM, dikutip Kamis (25/12/2025).
Adapun, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) sebelumnya membeberkan produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 diajukan sekitar 250 juta ton, turun drastis dari target produksi dalam RKAB 2025 sebanyak 379 juta ton.
Terkait itu, Tri mengklaim belum dapat mengungkap besaran target produksi nikel yang ditetapkan untuk 2026. Dia memastikan hal tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat.
"Belum, belum. Kan itu APNI. Dikit lagi [akan diputuskan dan diumumkan]," ujar Tri. "Kita sesuaikan. Jangan terlalu oversupply."
(naw)































