Logo Bloomberg Technoz

Smelter Defisit Bijih, Investasi Macet Imbas RKAB Nikel Dipangkas

Azura Yumna Ramadani Purnama
18 February 2026 10:50

Sampel ore nikel./Bloomberg-Carla Gottgens
Sampel ore nikel./Bloomberg-Carla Gottgens

Bloomberg Technoz, Jakarta – Analis komoditas memandang pemangkasan kuota produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi 270 juta ton berpotensi membuat pasokan bijih untuk smelter domestik tak terpenuhi.

Kondisi tersebut dinilai bisa memengaruhi rencana investasi penghiliran nikel baru di Tanah Air.

Analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono berpendapat pemotongan kuota produksi bijih nikel tahun ini menjadi 260—270 juta ton dari tahun sebelumnya sebesar 379 juta ton berpotensi membuat smelter kekurangan bijih sekitar 60—80 juta ton, dari total kebutuhan 330—350 juta ton.


Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi rencana investasi pembangunan smelter baru, sebab investor akan lebih berhati-hati dalam menghitung kelayakan ekonomi proyek hilirisasi nikel di Indonesia jika kepastian suplai bijih domestik dibatasi sangat ketat.

Smelter-smelter besar di Indonesia berisiko kekurangan bahan baku [feedstock]. Akibatnya, Indonesia yang kaya nikel justru mulai meningkatkan impor bijih nikel dari Filipina untuk menutupi kekurangan kuota domestik agar fasilitas produksi tetap jalan,” kata Wahyu ketika dihubungi, dikutip Rabu (18/2/2026).

Permintaan bijih nikel untuk smelter di Indonesia./dok. Bloomberg