Jepang saat ini merupakan mitra dagang terbesar ketiga bagi Arab Saudi. Dana kekayaan negara tersebut memperkirakan investasinya di Jepang dapat berkontribusi hingga US$16,6 miliar terhadap produk domestik bruto Arab Saudi, kata Al Rumayyan. Ia juga berharap dapat melihat lebih banyak arus investasi kembali ke kerajaan, termasuk di sektor perjalanan dan pariwisata.
Sektor-sektor tersebut termasuk di antara enam bidang prioritas untuk PIF senilai US$1 triliun dalam strategi investasi 2026–2030, yang rencananya akan diumumkan awal tahun depan. Dewan direksi telah menyetujui rencana tersebut dan akan memfinalkan detailnya dalam beberapa hari mendatang pada sebuah konferensi di Laut Merah, Arab Saudi, ujar Al Rumayyan.
Komentar tersebut menunjukkan bahwa Jepang akan tetap menjadi prioritas dalam investasi global PIF, seiring dana itu berupaya meningkatkan penyaluran modal tahunannya menjadi US$70 miliar setelah tahun ini. Pada 2024, PIF mengalokasikan hampir US$57 miliar untuk berbagai sektor prioritas.
Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir semakin mempererat hubungannya dengan negara-negara Asia saat kerajaan berupaya menarik lebih banyak mitra asing untuk mendukung program transformasi ekonomi Vision 2030 yang bernilai multi-triliun dolar.
Ada penekanan kuat pada sektor keuangan, dengan sejumlah ETF diluncurkan di pasar-pasar termasuk Tiongkok daratan, Hong Kong, dan Jepang untuk melacak aset-aset Saudi dalam dua tahun terakhir. Bank-bank Asia juga muncul sebagai pemberi pembiayaan utama bagi entitas Saudi. Dalam sektor energi, Arab Saudi bekerja sama dengan Jepang untuk mengembangkan pasar amonia biru.
Selain itu, kerajaan sedang membangun taman hiburan Dragon Ball dan anime di kawasan mega-hiburan Qiddiya di pinggiran Riyadh melalui kemitraan dengan Jepang. Konferensi FII di Tokyo yang diadakan pada 30 November–1 Desember merupakan acara FII kedua yang pernah diselenggarakan di Asia.
(bbn)































