“Biarkan lokal staff yang lebih banyak. Karena kita harus membiayai mereka punya allowance, termasuk sewa rumah dan sebagainya,” ujarnya.
Ditemui terpisah, Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro tak menampik adanya pemotongan gaji direksi sebesar 10% tersebut. Menurut dia, GIAA akan menyampaikan kajian wacana efisiensi tersebut.
“Yang pasti kan sudah disampaikan. Jadi itu yang akan menjadi patokannya buat nanti ke depannya,” jelas Thomas.
Menghemat Avtur
Di sisi lain, Thomas juga menyampaikan langkah efisiensi lainnya yang dilakukan perusahaan. Salah satunya dengan penghematan bahan bakar avtur oleh armada Garuda Indonesia.
Dengan langkah tersebut, Thomas mengeklaim Garuda Indonesia sudah bisa melakukan penghematan hingga 21 juta liter avtur.
“Jadi penggunaan avtur, kami juga kita lakukan efisiensi, yaitu pada waktu kita [pesawat] taxi kita pakai menggunakan satu engine supaya menghemat avtur dan itu sudah bisa menghasilkan sekitar 21 juta liter (penghematan),” kata Thomas.
“Cashflow manajemen itu sangat diperlukan karena kita di kondisi yang kritis secara operasional, diakibatkan karena armada kami yang tidak bisa bullish serviceable yang menekan revenue kami,” tambah Thomas.
Sekadar catatan, berdasarkan laporan keuangannya, GIAA telah mencatatkan rugi bersih sebesar US$182,53 juta atau Rp3,03 triliun (asumsi kurs Rp16.631 per dolar AS) per kuartal III-2025.
Rugi bersih GIAA itu membengkak 39,10% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan rugi bersih periode yang sama tahun sebelumnya US$131,22 juta atau Rp2,18 triliun. Membengkaknya rugi GIAA sejalan dengan pendapatan usaha yang turun 6,7% YoY menjadi US$2,39 miliar per kuartal III-2025, dibandingkan US$2,56 miliar per kuartal III-2024.
Dari sisi neraca, GIAA masih berkutat dengan ekuitas negatif di mana nilai liabilitas atau kewajiban melebihi asetnya. GIAA telah membukukan aset sebesar US$6,75 miliar pada periode yang berakhir 30 September 2025. Sementara, liabilitas GIAA mencapai US$8,28 miliar. Walhasil, ekuitas GIAA minus US$1,53 miliar.
(ain)






























