“Tapi, mengingat kompleksitas teknis hybrid dengan dua sistem penggerak justru sebenarnya membuat biaya produksi dan perawatan lebih tinggi dibandingkan EV produk China sekelas powernya” kata Yannes
Yannes juga menilai mobil-mobil Jepang tersebut juga harganya tak lebih murah dengan hybrid China yang mamasukkan mobil hybrid dengan range identik namun memiliki teknologi digital lebih canggih seperti Chery, DFSK, Geely, dan BAIC. Chery Tiggo Cross Hybrid misalnya, sudah mampu menawarkan ADAS level 2 dengan harga setara.
Selain itu, Yannes menilai jika pabrikan Jepang juga tidak boleh lupa bahwa saat ini sedang terjadi proses besar perubahan demografi yang cukup kritis lantaran Gen Z dan Milenial mulai mendominasi pasar entry level di bawah 300 jutaan, dengan preferensi pengalaman digitalisasi dan harga yang lebbih murah
“Ketika Gen Z dan Milenial mulai mendominasi pasar mobil di bawah Rp300 juta, preferensi mereka bukan lagi pada brand legacy atau reliabilitas mesin konvensional, tetapi pada experience digital yang seamless, konektivitas 5G, user interface intuitif, dan value for money yang dihitung secara holistik meliputi biaya energi, servis, depresiasi, hingga social currency” lanjut Yannes
Yannes menyebut bahwa disinilah strategi hybrid Jepang mulai goyah, karena mereka harus berhadapan dengan EV China yang lebih kompetitif secara harga dan lebih kaya fitur.
“Persaingan tiga arah ini (HEV Jepang vs HEV China vs EV China) menciptakan dilema eksistensial bagi Toyota dan Suzuki, karenaketika mereka menargetkan 50% penjualan hybrid, mereka justru mengalokasikan investasi triliunan rupiah untuk platform yang secara teknis lebih rumit dan mahal diproduksi dibandingkan EV.” kata Yannes.
Sementara itu, menurutnya konsumen muda yang menjadi pembeli utama di segmen ini justru semakin rasional dalam menghitung total ongkos kepemilikan 5 tahun EV yang jauh lebih murah dengan capital expenditure setara produk Jepang.
Diprediksi Tergeser
Yannespun menilai bahwa nantinya segmen pasar andalan pabrikan Jepang seperti Low Cost Green Car akan bergeser lambat laun seiring dengan mulai banyaknya infrastruktur yang akan dibangun untuk mobil listrik.
“Adalah sangat menantang untuk dapat mencapai 50% pangsa pasar di segmen Rp299 juta dalam jangka panjang.” kata Yannes.
Ia juga memprediksi, pabrikan Jepang kemungkinan akan bertahan dengan menguasai 40-45% pangsa pasar dalam 2 sampai 3 tahun ke depan dengan infrastruktur charging yang belum merata dan brand loyalty di kalangan konsumen lamanya yang berusia 45 tahun ke atas.
“Tapi setelah itu akan menurun, karena konsumen muda yg populasinya akan terus membesar tersebut lebih memilih satu langkah langsung ke depan dengan EV China atau Vietnam yang lebih modern daripada setengah langkah dengan hybrid Jepang yang terasa seperti berkompromi dengan teknologi ICE di era transisi.” katanya.
Meski begitu Yannes bilang bahwa saat ini sebenarnya, pabrikan Jepang seperti Toyota sudah mulai melirik mobil listrik terutama dengan salah satu EVnya bZ3 sudah berkolaborasi dengan BYD untuk powertrain dan baterai.
“Jadi sebenarnya Toyota sudah memilih path kedepannya dengan berkolaborasi selektif dengan pemain China yang spesifik, seperti BYD dan GAC, tetapi, tetap menggunakan platform e-TNGA desain Toyota sendiri”
Menurut Yannes, intinya di pasar Indonesia, Toyota harus semakin memperkuat brandingnya bagi 42% konsumen Indonesia yang masih percaya Toyota karena kemampuan in-house R&D mereka serta keunggulan jejaring 3S (Sales-Service-Spareparts) yang dimilikinya dan belum dikuasai oleh China.
(ell)































