Di sisi lain, Bahlil mengatakan, kementeriannya telah berkoordinasi dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk mengatasi terputusnya aliran listrik di sejumlah titik terdampak banjir tersebut. PLN telah mengirim sejumlah tower listrik ke wilayah terdampak banjir.
“Sebagian tower tiang listrik ini kita kirim pakai Hercules, subuh tadi sebagian sudah masuk,” kata Bahlil.
Bahlil menyebut, tower-tower listrik yang dikirim tersebut sudah mulai tahap pemasangan. Akan tetapi, dia menyatakan tim di lokasi masih menghadapi kendala berupa akses yang sulit akibat jalan terputus.
“Jadi langkah pertama yang kita lakukan adalah bagaimana percepatan untuk aliran listrik bisa nyala,” ucap Bahlil.
Sebelumnya, Greenpeace Indonesia menyebut musibah banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat bukanlah sekedar cuaca buruk belaka.
Juru Kampanye Greenpeace Indonesia Rio Rompas, mengatakan banjir yang terkonsentrasi di Sumatra merupakan bencana iklim atau secara akademis disebut hidrometeorologi. Manusia menjadi faktor utamanya.
Rio menjelaskan, bencana ini terjadi karena ada aktivitas manusia yang mengakibatkan terjadinya bencana tersebut. Terdapat beberapa faktor, yaitu curah hujan tinggi dan penyalahgunaan lahan hutan.
“Karena wilayah-wilayah hutannya sudah rusak atau ekosistemnya sudah rusak, sehingga dia tidak mampu lagi menampung air," kata Rio pada Bloomberg Technoz, Jumat (28/11/2025).
Selain itu topografi di Sumatra, kata Rio, memiliki perbedaan dengan daerah lainnya. Dia mencontohkan, di Pulau Kalimantan rata-rata daerahnya memiliki banyak sungai-sungai besar.
"Topografi di Sumatra itu sedikit curam, sehingga memang karakter banjirnya memang banjir bandang. Banjir bandang itu kan biasanya kapasitas sungainya juga kecil, tapi cepat mengalirnya,” tuturnya.
Rio pun menyoroti banjir yang terjadi di Sumatra Utara. Katanya, banjir tersebut erat berhubungan dengan penebangan hutan. Bahkan, Greenpeace mendapati beberapa wilayah di Sumatra yang terjadi aktivitas ekstrem.
"Ada tambang-tambang, ada beberapa tambang di hulu misalnya yang di Batang Toru. Itu ada aktivitas tambang di sana. Di sana juga ada aktivitas pembangunan PLTA,” tuturnya.
"Sementara di wilayah Aceh atau Sumbar kita perlu periksa lagi. Tapi memang biasanya di wilayah ini industri ekstraktif, termasuk industri yang berbasis lahan menjadi pendorong penebangan hutan di wilayah yang masih memiliki hutan,” kata dia.
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengatakan banjir yang terjadi di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah diperparah oleh aktivitas tambang emas, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), hingga perkebunan kelapa sawit.
“Ribuan kubik kayu hanyut dibawa banjir bandang menghantam pemukiman warga,” tulis Walhi Sumut dalam unggahan di akun Instagramnya.
“Di atas perbukitan berdiri megah korporasi tambang emas asing PT.Agincourt Resources (Martabe). Dari pencitraan satelit terbaru tahun 2025 pembukaan hutan di areal harangan Tapanuli tepatnya di kecamatan Batang Toru Tapanuli Selatan sangat masif terjadi,” tulis Walhi.
(azr/naw)
































