Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengatakan merger itu dilakukan lantaran banyak perusahaan-perusahaan yang memiliki lini industri sejenis namun skalanya tidak begitu besar.
Dony mengisyaratkan akan adanya merger-merger perusahaan BUMN lainnya ke depan.
“Nanti industri airlines itu jadi satu industri airlines. Pertamina nanti menjadi oil and gas company jadi itu sebetulnya kan roadmap yang dibangun demikian tapi di dalam perjalannya tentu ada pro dan kontra.” sebutnya.
Ia juga bilang saat ini pihaknya akan terus menerima kritik dan masukan yang akan dijadikan sebagai persiapan yang lebih baik lagi dalam proses penyempurnaan dan penyehatan BUMN.
Dilepas Pertamina
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan divestasi bisnis penerbangan diharapkan dapat meningkatkan fokus bisnis perseroan di industri migas dan energi baru terbarukan (EBT).
“Kita sedang penjajakan awal untuk penggabungan dengan Garuda Indonesia,” kata Simon dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Kamis (11/9/2025).
Selain bisnis Aviasi, Pertamina juga berencana melepas sektor pelayanan kesehatan dan asuransi yakni PT Patra Jasa.
Hal tersebut, menurutnya telah sesuai dengan peta jalan yang telah dipersiapkan oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
“Kami juga melakukan optimasi proses bisnis di seluruh lini sehingga setiap aktivitas dapat berjalan lebih efisien dan efektif,” ucap Simon.
(azr/naw)



























