Pada akhirnya, menurut Agus pendetailan untuk sektor manufaktur tersebut menjadi salah satu motor penggerak bagi target pertumbuhan ekonomi yang dipatok oleh sang Kepala Negara.
“Kita bisa memberikan kontribusi agar supaya target 8% itu bisa tercapai. Atau setidaknya mendekati 8%. Nah, itu yang sebetulnya strategi baru ini kita desain per sektor dan sangat-sangat detail.” kata Agus.
Sebagai informasi, di bulan Oktober, Indonesia mencatatkan IKI sebesar 53,50% yang terutama didukung oleh 22 subsektor yang mengalami ekspansi dan 1 subsektor yang mengalami kontraksi.
"Subsektor yang ekspansi memiliki kontribusi sebesar 98,8% terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan II 2025," kata juru bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif beberapa waktu lalu.
Selain itu, dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12) dan Industri Kertas dan Barang dari Kertas (KBLI 17). Adapun satu subsektor yang mengalami kontraksi adalah Industri Tekstil (KBLI 13).
(ell)





























