Pemerintah Turki yakin bahwa Israel pada akhirnya akan mundur jika AS menekan mereka—meski, sejauh ini, belum ada tanda-tanda pemerintah Israel akan melakukannya.
Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak Hamas menyerang Israel pada 2023 yang dibalas dengan agresi di Gaza. Negara Yahudi tersebut menuduh Ankara mendukung kelompok Palestina, sementara Turki marah atas pembunuhan puluhan ribu warga sipil di Gaza.
"Turki, yang dipimpin Erdogan, memimpin pendekatan yang bermusuhan terhadap Israel," kata Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar bulan lalu, merujuk pada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
"Jadi, tidak masuk akal bagi kami untuk membiarkan pasukan bersenjata mereka memasuki Jalur Gaza, kami tidak akan menyetujuinya dan kami telah mengatakannya kepada rekan-rekan Amerika kami."
Turki menyatakan minatnya untuk berkontribusi pada pasukan tersebut, bersama dengan banyak negara lain, menurut pejabat senior pemerintah AS. Pejabat tersebut tidak menyebut apakah AS mendukung upaya tersebut atau tidak.
Menurut pejabat Turki, pasukan, yang akan mencakup negara-negara seperti Indonesia, Pakistan, dan Azerbaijan, tersebut diharapkan dapat membantu menjaga ketertiban, saat militer Israel menarik diri dari Jalur Gaza dan saat pemerintahan sementara dibentuk.
Sebelum mengirim pasukan, Turki dan negara-negara lain ingin Washington menghentikan serangan militer Israel yang masih berlanjut di Gaza dan memperjelas mandat pasukan tersebut.
Menurut Hamas, Israel telah menewaskan 300 warga Palestina sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober. Israel berdalih mereka membalas serangan—beberapa di antaranya mematikan—terhadap pasukannya.
(bbn)






























