Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan hampir 48 juta barel minyak Rosneft dan Lukoil—kebanyakan jenis Urals dan ESPO—saat ini sedang dalam perjalanan atau mulai dimuat. Jumlah itu mencakup sekitar 50 kapal tanker yang mengarah ke China dan India, serta kapal-kapal lain tanpa tujuan jelas atau menuju pelabuhan lebih kecil, tersebar dari Laut Baltik hingga Laut China Selatan, seiring para perantara menjaga jarak dari perdagangan tersebut.
Dengan Rusia berupaya menjaga agar arus ekspor tetap mengalir, Moskow memprioritaskan proses pemuatan—bahkan mempertahankan volume pengiriman lewat laut pada kisaran 3,4 juta barel per hari, berdasarkan data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg. Harga acuan sejauh ini juga relatif stabil meski menghadapi tekanan dari sanksi terbaru.
Meski demikian, tidak semua pasokan tersebut dipastikan menemukan pembeli—bahkan di pasar terbesar Asia. China dan India menjadi pembeli utama minyak Rusia sejak invasi 2022 dan tetap menjalin hubungan erat dengan Moskow.
Namun keduanya tetap berhati-hati agar tidak terseret sanksi sekunder, karena AS meningkatkan tekanan pada pihak mana pun yang membantu ekspor Rusia. Seberapa ketat pembatasan ini, serta sejauh mana Washington mau menegakkannya, akan menentukan berapa banyak minyak yang akhirnya sampai ke kilang-kilang.
“Ini menyakitkan, tetapi hanya dalam tiga atau empat bulan,” kata Adam Lanning, analis pasar kapal tanker senior di broker SSY. “Yang kemungkinan akan kita lihat adalah pasar akan mulai menyesuaikan diri dan menemukan cara untuk mengimpor minyak itu tanpa terkena sorotan.”
Tekanan yang meningkat pada ekspor Rusia sudah mendorong pembeli beralih ke jenis minyak yang lebih umum diperdagangkan. Namun beberapa hari ke depan akan menjadi ujian bagi ketahanan strategi itu.
Dua kapal yang membawa minyak Urals sempat berbalik arah akibat sanksi, kini kembali melanjutkan perjalanan menuju India. Kemungkinan besar kapal tersebut tidak akan tiba sebelum masa tenggang berakhir pada 21 November.
Spirit 2, yang membawa 730.000 barel Urals dari Rosneft, sedang menuju Asia ketika berbalik arah setelah melewati Terusan Suez pada awal November dan sempat berdiam di area tersebut, menurut data pelacakan kapal. Akhir pekan lalu, kapal itu kembali bergerak ke selatan dan kini menunjukkan tujuan India.
Furia, kapal Aframax lain yang berbalik arah secara dramatis di Laut Baltik pada akhir Oktober, baru saja melewati Terusan Suez pekan ini dan menuju India. Kapal itu membawa hampir 730.000 barel Urals dari Rosneft, menurut data.
Namun kapal-kapal lain mulai menunjukkan gambaran awal mengenai potensi gangguan akibat sanksi Barat.
Di Rusia Timur, kapal Cindy memuat hampir 770.000 barel ESPO dari Kozmino pada awal November tanpa tujuan jelas. Kini kapal tersebut menuju perairan terbuka di sekitar Singapura dan Malaysia, wilayah yang kerap menjadi lokasi transfer minyak antar kapal untuk menyamarkan asal-usulnya—baik minyak Iran maupun, dalam beberapa kasus, minyak Rusia.
Kapal Fortis, yang membawa 720.000 barel Urals dari Rosneft, sedang menuju Yeosu di Korea Selatan—lokasi populer lainnya untuk transfer kapal-ke-kapal—setelah melakukan transfer langka di perairan India. Fortis sempat dijadwalkan menuju Ningbo, China, sebelum mengubah tujuan ke Yeosu.
(bbn)






























