Berseberangan jauh dengan IHSG, saham–saham LQ45 justru terjerembab di teritori negatif antara lain, saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) ambles 4,85%, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terpeleset 3,12%. Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melemah 2,39%, dan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) drop 2,21%.
Investor gelisah terhadap pelemahan rupiah di level Rp16.732/US$ di pasar spot berdasarkan data Bloomberg, setelah sempat menyentuh level terendah di Rp16.749/US$.
Kinerja rupiah yang melaju di tren negatif, terjadi ketika dolar AS melaju cepat di zona penguatan mencapai level 100,234, setelah kemarin juga ditutup menguat 0,68% di New York. Ini menjadi yang tertinggi sejak 5 November atau dalam dua pekan perdagangan.
Dalam intraday trading hari ini rupiah sempat menyentuh level terlemahnya di Rp16.749/US$, tersengat sentimen kehati-hatian menyikapi The Fed, yang akan bertemu pada Desember nanti sehingga menyalakan mode Risk-Off lebih besar.
Adapun pasar pesimisme terhadap Bank Sentral Federal Reserve, yang dinilai bakal mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat bulan depan.
Mengutip CME FedWatch, peluang pemangkasan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5–3,75% dalam rapat Desember tinggal tersisa 33,8%. Sementara kemungkinan suku bunga acuan bertahan di 3,75–4% sudah mencapai 66,2%.
Saat suku bunga belum turun, maka berinvestasi di aset–aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap) akan lebih menguntungkan. Ini membuat dolar AS menjadi buruan sehingga terus di jalur pendakian.
(fad)






























