Hubungan kedua negara tetangga ini memburuk setelah Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi menjadi pemimpin Jepang pertama dalam beberapa dekade yang secara terbuka mengaitkan krisis Selat Taiwan dengan peluang pengerahan pasukan Jepang. Pernyataannya ini langsung memicu reaksi Beijing, yang memperingatkan akan ada lebih banyak lagi tindakan balasan.
Jepang mengatakan Kanai menegaskan kembali bahwa posisi negaranya terhadap Taiwan tetap tidak berubah. Kanai juga mengecam "pernyataan yang sangat tidak pantas" dari Xue Jian, konsul jenderal China di Osaka, yang mengancam akan memenggal kepala Takaichi dalam unggahan di X yang kini dihapus. Kanai, sebagai Direktur Jenderal Biro Urusan Asia dan Oseania, menuntut tindakan secepatnya terhadap diplomat tersebut.
Dampak Ekonomi
Impor makanan laut China dari Jepang melambat drastis sejak 2024, setelah Beijing melarang pengiriman dari negara tetangganya di Asia itu. Data bea cukai China menunjukkan impor ikan, krustasea, dan makanan laut lainnya hanya mencapai US$500.000 dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
Beijing telah memperingatkan warga negara China agar tidak bepergian ke Jepang—langkah ini menyebabkan setidaknya dua agen perjalanan milik negara membatalkan tur grup yang dipesan beberapa bulan sebelumnya, menurut sumber yang mengetahuinya. Peringatan ini memicu aksi jual masif saham-saham pariwisata dan ritel terbesar Jepang sebelum akhirnya pulih sebagian.
Perusahaan-perusahaan milik negara mengimbau karyawannya agar menghindari perjalanan ke Jepang. Menurut narasumber yang mengetahui hal ini, beberapa kelompok investasi, bank, perusahaan pialang, dan perusahaan lain mengirim pesan peringatan kepada staf mereka pekan ini.
Ada kekhawatiran bahwa China akan menggunakan perdagangan sebagai senjata, seperti yang pernah dilakukannya di masa lalu dalam perselisihan dengan Jepang, Australia, Korea Selatan, dan negara lain. Saat Beijing dan Tokyo berselisih mengenai sengketa teritorial lebih dari satu dekade lalu, China menangguhkan pasokan logam tanah jarang.
Industri Jepang khawatir hal ini akan terulang. Pada Rabu (19/11/2025), Ketua Dewan Perdagangan Luar Negeri Tatsuo Yasunaga mengatakan, "kami tidak dapat mengabaikan kemungkinan bahwa masalah ini akan menyebabkan ketidakpastian pasokan baru logam tanah jarang." Dia menambahkan bahwa "sebagai entitas bisnis, kami akan meminta tindakan yang tepat."
China telah menuntut agar Takaichi menarik pernyataannya. Media pemerintah mengkritik ucapan Takaichi, menyebutnya "terdengar seperti peringatan keras bahwa iblis militeris Jepang sedang dibangkitkan."
Kementerian Keamanan Negara China juga angkat bicara, melalui unggahan media sosial, mengatakan Takaichi "bermain api" dan mengancam akan memberi konsekuensi yang tidak disebutkan jika dia tidak menarik ucapannya.
Unggahan tersebut juga menekankan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, China telah mengungkap sejumlah kasus spionase yang melibatkan Jepang dan berjanji akan melindungi keamanan nasional, tanpa menjelaskan detailnya.
Juru bicara kantor Beijing yang menangani urusan Taiwan, Zhu Fenglian menilai ucapan Takaichi merupakan "upaya untuk menghidupkan kembali militerisme yang menginjak-injak keadilan internasional."
Dia menambahkan bahwa Beijing ingin Jepang segera berhenti mencampuri urusan dalam negeri China, serta menghentikan provokasi dan pelanggaran.
(bbn)






























