Menurutnya, anak yang belum mendapat dua dosis MMR memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi berat, mulai dari pneumonia hingga ensefalitis, bahkan kematian. Ia menegaskan bahwa data menunjukkan komplikasi dan mortalitas jauh lebih tinggi pada anak yang tidak divaksin.
Dicky menyoroti bahwa keraguan vaksin di masyarakat sebagian besar dipicu misinformasi, narasi keselamatan yang salah, serta ketidakpercayaan terhadap otoritas kesehatan. Di Indonesia, hambatan akses seperti biaya, jarak, hingga trauma pascapandemi juga membuat sebagian orang tua menunda atau menolak imunisasi rutin.
Ia menilai rendahnya cakupan imunisasi tidak hanya memicu wabah tetapi juga mencerminkan belum tercapainya layanan imunisasi yang optimal. “Wabah campak menunjukkan kegagalan dalam mencapai cakupan imunisasi, sekaligus meningkatkan morbiditas dan mortalitas anak,” kata Dicky.
Menurut Dicky, situasi ini menandakan masalah global yang lebih dalam, yaitu menurunnya kepercayaan publik terhadap sains dan kesehatan. Hal tersebut menyebabkan turunnya tingkat vaksinasi anak dan meningkatnya kerentanan populasi terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Untuk mengatasi kondisi ini, ia merekomendasikan pemerintah meningkatkan cakupan dua dosis MMR melalui kampanye imunisasi massal yang menyasar kantong-kantong rawan. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi risiko dengan bahasa lokal yang sederhana, serta melibatkan tokoh masyarakat, agama, dan tenaga kesehatan.
Selain itu, surveilans aktif, pelacakan kontak, isolasi kasus, dan penyediaan vaksin pascapaparan perlu diperkuat. “Misinformasi harus segera dilawan dengan bukti lokal, data kasus, dan angka kematian. Itu yang paling efektif meyakinkan masyarakat,” ujarnya.
(dec)






























