“Pertanyaan sebenarnya adalah berapa lama tren belanja AI ini akan bertahan dan seberapa buruk dampaknya ketika tren itu berakhir.”
Valuasi perusahaan di industri AI yang sedang booming kemungkinan perlu dinilai ulang, menurut Wakil Ketua JPMorgan Chase & Co., Daniel Pinto.
“Mungkin akan ada koreksi di sana,” kata Pinto dalam Bloomberg Africa Business Summit di Johannesburg pada Selasa.
“Koreksi itu juga akan memicu koreksi di bagian lain pasar, termasuk S&P dan industri terkait.”
Indeks S&P 500 turun ke sekitar 6.617, level terendah dalam lebih dari sebulan. Indeks yang melacak saham teknologi raksasa tergelincir 1,8%. Indeks volatilitas saham yang banyak dipantau — VIX — berada di kisaran 25.
Bitcoin naik kembali setelah sempat turun di bawah US$90.000. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merosot dua basis poin menjadi 4,12%. Dolar bergerak tidak menentu.
Sementara itu, posisi kas para investor turun di bawah batas kritis dalam survei bulanan Bank of America Corp., yang memicu apa yang disebut sebagai sell signal untuk pasar saham. Karena kepemilikan saham masih berada pada level tertinggi sejak Februari dalam catatan BofA, Michael Hartnett mengatakan pasar akan “terkoreksi lebih jauh” jika tidak ada penurunan suku bunga bulan depan.
Posisi investor sekarang menjadi “penghambat, bukan pendorong bagi aset berisiko,” tambah sang analis.
Menurut Louis Navellier dari Navellier & Associates, meski penurunan pasar baru-baru ini sebenarnya sudah lama tertunda secara teknikal, besarnya koreksi menjadi lebih besar karena bobot saham mega-tech yang sangat besar dan ketakutan akan gelembung AI.
“Untungnya, kinerja laba perusahaan masih sangat baik; tidak ada yang meragukan bahwa AI menjanjikan lonjakan besar dalam produktivitas,” kata veteran Wall Street itu. “Ketidakpastiannya lebih pada kapan produktivitas itu akan benar-benar meningkat, serta dari mana dan bagaimana keuntungan akan dihasilkan.”
Prospek positif untuk AI generatif kini tidak lagi sejelas sebelumnya, dan perusahaan-perusahaan hyperscaler perlu dihadapi dengan lebih hati-hati, menurut seorang analis yang menurunkan penilaian terhadap dua raksasa teknologi favorit Wall Street.
Microsoft Corp. dan Amazon.com Inc. diturunkan peringkatnya dari “beli” menjadi “netral” pada Selasa, setelah Alexander Haissl dari Rothschild & Co Redburn menurunkan rekomendasinya untuk pertama kalinya sejak ia mulai mengulas saham tersebut pada Juni 2022, menurut data yang dihimpun Bloomberg.
“Kami tidak setuju dengan narasi bahwa sedang terjadi gelembung AI, karena sebagian besar belanja justru berasal dari perusahaan besar yang kaya modal, bukan dari startup yang berutang,” kata Harriet Smith dari HSBC.
Menurut Ryan Grabinski dari Strategas, jika dilihat sebagai perusahaan tunggal, ukuran Nvidia kini lebih besar daripada gabungan sektor energi, material, dan real estat. Bahkan, tergantung harinya, nilai Nvidia bisa melampaui gabungan sektor-sektor tersebut ditambah sektor utilitas. Nvidia juga lebih besar daripada seluruh sektor industri.
“Jadi menyebut laporan laba Nvidia besok sebagai ‘penting’ itu sebenarnya kurang tepat — karena pengaruhnya sangat besar,” kata Grabinski.
“Hasil laporan tersebut kemungkinan akan berdampak luas pada pasar AS dan internasional. Walaupun ekspektasi terhadap AI secara umum sudah mulai mendingin dalam beberapa minggu terakhir, laporan ini bisa saja mengembalikan sentimen menjadi optimistis. Meski begitu, standar yang harus dipenuhi Nvidia saat ini memang sangat tinggi.”
Nvidia menjadi salah satu pemenang terbesar di kelompok saham berkapitalisasi besar berkat ledakan AI, tetapi reaksi pasar terhadap laporan keuangannya belakangan ini justru lebih lemah dari perkiraan, menurut data Bespoke Investment Group.
“Meskipun hasil kinerjanya konsisten kuat — termasuk delapan triple play dalam sebelas laporan terakhir — harga sahamnya justru sering turun pada hari setelah pengumuman, yakni delapan kali dari sebelas, termasuk lima laporan terakhir berturut-turut,” kata Bespoke. “Jadi meskipun hasilnya bagus, investor memilih mengambil keuntungan.”
Fakta bahwa harga saham Nvidia sudah turun sebelum laporan labanya pada Rabu membuat standar yang harus dicapai perusahaan sedikit lebih rendah setelah pengumuman, menurut James Demmert dari Main Street Research.
“Kami memperkirakan Nvidia akan melampaui perkiraan dan memberikan panduan laba serta pendapatan ke depan yang lebih tinggi dari ekspektasi investor,” katanya.
“Kemungkinan besar Nvidia belum mengalami perlambatan permintaan atas produknya, meskipun persaingan meningkat, karena siklus AI masih berada pada tahap sangat awal.”
Demmert mengatakan bahwa laporan laba Nvidia pada Rabu sangat penting mengingat meningkatnya keraguan mengenai seberapa lama siklus AI akan bertahan dan apakah valuasi saham AI saat ini bisa dibenarkan. Meskipun mahal, valuasi saham-saham AI masih lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan labanya, dan sentimen pasar terhadap AI masih cenderung optimistis, bukan berlebihan, katanya.
“Penurunan pasar saham baru-baru ini adalah penyesuaian alami setelah beberapa bulan hampir tanpa volatilitas,” lanjutnya. “Meski jarang terjadi penurunan pasar di bulan November, kondisi ini justru mempersiapkan peluang untuk penguatan yang baik di bulan Desember dan akhir tahun. Kita masih berada di tahap sangat awal dalam siklus bisnis dan siklus AI.”
Meskipun Nvidia tetap menjadi barometer permintaan chip, para hyperscaler AI besar lainnya sudah menunjukkan adanya feedback loop yang kuat antara pendapatan layanan cloud, arus kas bebas, dan rencana belanja modal baru, kata Lauren Goodwin dari New York Life Investments.
“Sementara kami terus memantau kecepatan dan besarnya belanja modal AI yang didanai utang dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba, kami tetap mempertahankan pandangan positif terhadap pertumbuhan struktural AI, yang seharusnya mendorong kinerja saham lebih lanjut,” kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Global Wealth Management.
Ia menambahkan, ikut berpartisipasi dalam tren-transformasi seperti AI sering kali penting untuk menjaga dan meningkatkan kekayaan dalam jangka panjang, dan menurutnya investor yang masih kurang menempatkan dana di sektor ini sebaiknya mulai menambah eksposur.
Menurut Kyle Rodda dari Capital.com, penurunan harga saham baru-baru ini disebabkan oleh faktor posisi investor, meningkatnya kehati-hatian, dan momentum pasar.
Artinya, investor sedang mengurangi risiko menjelang rilis data tenaga kerja AS dan laporan laba Nvidia — dua hal yang akan mempengaruhi ekspektasi soal arah suku bunga AS dan profitabilitas “Magnificent Seven,” ujarnya.
“Kami percaya peluang untuk terjadinya penurunan atau koreksi yang lebih dalam kini sudah terbuka, dan rangkaian kemenangan saham selama enam bulan dapat segera berakhir,” kata Craig Johnson dari Piper Sandler.
“Investor sebaiknya tetap berhati-hati, tetapi juga siap memanfaatkan penurunan yang lebih dalam dalam beberapa bulan mendatang.”
“Kekhawatiran terhadap sektor teknologi sedang menekan harga saham, dan investor juga harus memperhitungkan kemungkinan bahwa The Fed mungkin tidak akan menurunkan suku bunga lagi bulan depan,” kata David Morrison dari Trade Nation.
Sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) telah meningkatkan peringatan bahwa kemajuan penurunan inflasi bisa melambat atau bahkan terhenti, menimbulkan keraguan soal peluang pemangkasan suku bunga lagi pada Desember dan memperlihatkan perpecahan pandangan yang semakin dalam di bank sentral.
Para pejabat secara umum sepakat bahwa pasar tenaga kerja telah mendingin, tetapi mereka berbeda pendapat soal apakah perlambatan itu akan makin parah. Dan sementara sebagian pejabat merasa kondisi harga cukup terkendali, yang lain memperingatkan bahwa suku bunga saat ini hampir tidak cukup menahan aktivitas ekonomi dan penurunan suku bunga lebih lanjut bisa membahayakan kemajuan dalam menurunkan inflasi.
“Hal ini membuat banyak pihak kini memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga The Fed Funds setelah pertemuan bulan depan, yang berarti hilangnya dorongan kuat bagi pasar saham,” tambah Morrison.
Gubernur The Fed Bank of Richmond, Tom Barkin, memberikan pandangan yang lebih optimistis tentang inflasi, sambil menyebutkan bahwa pasar tenaga kerja mungkin sebenarnya lebih lemah daripada yang ditunjukkan data resmi. Ia tidak memberikan petunjuk apakah ia akan mendukung penurunan suku bunga lagi saat para pejabat The Fed bertemu pada 9–10 Desember, dan mengatakan masih banyak hal yang harus dipelajari hingga saat itu.
Kelesuan yang melanda pasar keuangan global mulai merembet ke pasar kredit. Premi risiko untuk berbagai instrumen, mulai dari obligasi korporasi berkualitas tinggi hingga obligasi berimbal hasil tinggi (junk bonds), berada dekat level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir.
Dari sisi ekonomi, tingkat kepercayaan para pembangun rumah di AS hampir tidak meningkat bulan ini. Klaim tunjangan pengangguran mencapai 232.000 pada pekan yang berakhir 18 Oktober, menurut situs Departemen Tenaga Kerja yang menampilkan data historis klaim. Perusahaan-perusahaan rata-rata memangkas 2.500 pekerjaan per minggu dalam empat minggu yang berakhir 1 November, menurut ADP Research.
Data ADP tentang kondisi pasar tenaga kerja membantu mengisi kekosongan informasi dari data ketenagakerjaan resmi yang tertunda akibat penutupan pemerintah terpanjang dalam sejarah. Meskipun pendanaan untuk lembaga statistik resmi telah dipulihkan, masih belum jelas kapan data ekonomi bulan Oktober akan dirilis.
Para pelaku pasar akan segera berfokus pada laporan pekerjaan bulan September, yang dijadwalkan dirilis pada hari Kamis setelah penundaan yang cukup panjang.
“Pasar saham mulai meragukan kemampuan The Fed untuk memangkas suku bunga pada Desember. Jadi, jika laporan pekerjaan hari Kamis nanti ternyata lebih lemah dari perkiraan, hal itu bisa membuka jalan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga di Desember dan memicu reli ‘Santa Claus’ yang kami perkirakan — yang bisa mendorong S&P 500 ke level 7.100 pada akhir tahun,” kata Demmert dari Main Street Research.
Ke depan, para ekonom di Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan tanggal rilis baru untuk laporan pekerjaan Oktober dan November akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang. Mereka menilai laporan pekerjaan November — yang semula dijadwalkan dirilis 5 Desember — kemungkinan besar akan tertunda setidaknya satu minggu.
“Meski kami tidak berharap Biro Statistik Tenaga Kerja akan menerbitkan angka pengangguran bulan Oktober, kami memperkirakan angkanya kemungkinan akan meningkat, mencerminkan tekanan kenaikan dari pekerja cuti sementara akibat shutdown dan meningkatnya ukuran pelonggaran pasar tenaga kerja secara keseluruhan,” kata Jan Hatzius dari Goldman Sachs.
Beberapa pergerakan utama di pasar:
Saham
- S&P 500 turun 0,8% pada pukul 16.00 waktu New York
- Nasdaq 100 turun 1,2%
- Dow Jones Industrial Average turun 1,1%
- MSCI World Index turun 1,1%
- Bloomberg Magnificent 7 Total Return Index turun 1,8%
- Russell 2000 Index naik 0.3%
- Nvidia turun 2,8%
Mata Uang
- Bloomberg Dollar Spot Index relatif tidak berubah
- Euro turun 0,1% menjadi US$1,1580
- Poundsterling Inggris relatif tidak berubah pada US$1,3146
- Yen Jepang turun 0,2% menjadi 155,53 per dolar
Kripto
- Bitcoin naik 1,1% menjadi US$92.791,89
- Ether naik 3,7% menjadi US$3.118,2
Obligasi
- Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun dua basis poin menjadi 4,12%
- Imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun relatif tidak berubah pada 2,71%
- Imbal hasil obligasi Inggris tenor 10 tahun naik dua basis poin menjadi 4,55%
- Imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun turun empat basis poin menjadi 3,57%
- Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun relatif tidak berubah pada 4,74%
Komoditas
- Minyak West Texas Intermediate naik 1,3% menjadi US$60,71 per barel
- Emas spot naik 0,6% menjadi US$4.071,07 per ons
(bbn)





























