Logo Bloomberg Technoz

Arab Saudi dan para mitranya mengejutkan pasar minyak pada April ketika mereka memutuskan untuk menghidupkan kembali produksi yang sebelumnya dihentikan, meski pasokan global masih berlimpah, sebuah langkah yang tampaknya ditujukan untuk merebut kembali pangsa pasar.

Kelebihan pasok minyak mentah di pasar makin lebar. (Bloomberg)

Dengan tanda-tanda kelebihan pasokan yang mulai muncul, yang menurut Badan Energi Internasional (IEA) dapat membengkak hingga rekor tertinggi pada 2026, para produsen kini menunjukkan sikap lebih berhati-hati, dengan sepakat menjeda kenaikan produksi pada kuartal pertama.

Kontrak berjangka minyak turun 14% sepanjang tahun ini ke sekitar US$64 per barel di London, menekan keuangan para anggota OPEC+. Sejumlah analis Wall Street memperkirakan harga bisa turun lebih jauh.

Morgan Stanley menilai ada kemungkinan “sangat besar” bahwa OPEC+ akan memangkas produksi pada 2026 untuk mencegah kejatuhan harga.

Namun, hanya delapan dari 25 responden survei Bloomberg yang memperkirakan adanya pemangkasan produksi tahun depan.

Dua belas responden mengatakan tidak menunggu adanya pemangkasan, sementara beberapa lainnya menilai hal itu hanya mungkin terjadi jika pasar anjlok secara drastis.

“Untuk membalikkan kebijakan dan berkomitmen pada pemangkasan produksi kemungkinan hanya terjadi jika permintaan anjlok secara jelas, harga jatuh di bawah US$50, dan para pemimpin OPEC menyadari bahwa pergeseran kembali ke pengelolaan pasar menjadi perlu,” kata Greg Brew, analis senior di Eurasia Group, New York.

Sejak keputusan April yang menandai pergeseran dari upaya bertahun-tahun untuk menopang harga, delapan negara kunci OPEC+ telah menghidupkan kembali, setidaknya di atas kertas, tiga perempat dari 3,85 juta barel per hari produksi yang dihentikan sejak 2023. Pasokan itu dipulihkan sekitar satu tahun lebih cepat dari jadwal.

Sumber yang mengetahui rencana Saudi mengatakan perubahan kebijakan membuka keran produksi bertujuan merebut kembali pangsa pasar yang sebelumnya hilang ke para pesaing seperti produsen shale AS.

Yang Dikorbankan

Ada pula dimensi politik. Saudi tengah mencari berbagai jaminan keamanan dari Washington, dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dijadwalkan bertemu Presiden Donald Trump pekan ini, yang telah berulang kali meminta OPEC menurunkan harga bahan bakar.

Keputusan koalisi untuk menjeda kenaikan produksi dapat menjadi langkah awal menuju kesepakatan pemangkasan baru, menurut konsultan FGE dan Rapidan Energy Group.

Dengan pertumbuhan permintaan minyak yang masih lemah serta pasokan dari AS, Brasil, dan Guyana yang kuat, IEA memperkirakan pasar global berpotensi mengalami kelebihan pasokan hingga 4 juta barel per hari, tingkat yang belum pernah terlihat di luar masa pandemi Covid-19 pada 2020.

Pemangkasan produksi oleh OPEC+ tampaknya menjadi benteng paling mungkin untuk mencegah penumpukan stok dalam jumlah besar tersebut, kata lembaga berbasis di Paris itu.

Para produsen juga telah berulang kali menegaskan bahwa mereka dapat “menjeda atau membalikkan” kenaikan produksi tahun ini jika diperlukan.

“Entah proyeksi surplus ini adalah ilusi terbesar dalam sejarah pasar minyak modern, atau sesuatu harus dikorbankan tahun depan untuk mencegah penurunan harga yang tajam,” kata Bob McNally, presiden Rapidan dan mantan pejabat energi Gedung Putih.

“Jika bukan gangguan geopolitik atau sanksi terhadap Iran atau Rusia, maka kemungkinan harus ada pemangkasan besar dari OPEC+.”

Penurunan harga minyak telah menekan keuangan banyak anggota OPEC+, termasuk Saudi, yang menghadapi defisit anggaran yang melebar dan terpaksa memangkas investasi dalam proyek-proyek ekonomi andalan.

Namun, banyak analis pasar seperti Goldman Sachs Group Inc. dan HSBC Bank Plc memperkirakan surplus tahun depan akan lebih kecil dibandingkan proyeksi IEA. Kelebihan pasokan mungkin terus diserap oleh China, yang masih mengisi cadangan strategisnya.

Jika OPEC+ mampu bertahan menghadapi lemahnya pasar minyak pada awal tahun depan, posisinya bisa lebih kuat pada akhir 2026. Pertumbuhan pasokan dari produsen non-OPEC dapat mulai melambat sedini tahun depan, menurut CEO BP Plc, Murray Auchincloss.

Aliansi tersebut mungkin kemudian dapat menyatakan bahwa pergeseran strategis menuju perebutan pangsa pasar sebagai sebuah kemenangan, terutama karena sejumlah lembaga seperti IEA dan Goldman Sachs memperkirakan permintaan minyak akan terus tumbuh lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya.

“Saya tidak melihat OPEC+ akan memangkas produksi pada 2026,” kata Jorge Leon, analis di Rystad Energy AS yang sebelumnya bekerja di Sekretariat OPEC.

“OPEC+ sudah jelas menentukan arah kebijakan, yaitu merebut kembali pangsa pasar.”

(bbn)

No more pages