Namun, di banyak negara, teknologi ini masih kesulitan berkembang karena ongkos yang tetap tinggi, membuat perusahaan energi besar seperti BP Plc menarik diri dari proyek bernilai miliaran dolar di Australia dan wilayah lainnya.
Meski demikian, pemerintah China tetap menunjukkan dukungannya. Tahun ini, Beijing telah mendukung teknologi tersebut melalui sejumlah proyek percontohan, dan bulan lalu membuka peluang bagi sektor hidrogen untuk memperoleh kredit karbon guna membantu pendanaan.
Pemerintah juga menempatkan energi hidrogen sebagai salah satu sektor yang akan diprioritaskan dalam rencana lima tahun berikutnya untuk periode 2026–2030.
Perusahaan energi China merespons dengan meluncurkan lebih dari 500 proyek hidrogen sepanjang 2025 saja, dengan nilai investasi mencapai 221 miliar yuan dan memanfaatkan hampir 18 gigawatt listrik, menurut laporan bulan ini dari publikasi industri Qingnenghui.
Meski investasi melonjak, permintaan masih tertinggal. Dari tambahan kapasitas produksi hidrogen sebesar 44.000 ton yang mulai beroperasi tahun lalu, output hanya naik 11.000 ton—menandakan banyak proyek yang berjalan jauh di bawah kapasitas penuh, menurut BloombergNEF.
Kendati begitu, BNEF memperkirakan kapasitas hidrogen hijau di China akan mencapai 1,2 juta ton pada 2030, naik dari 125.000 ton pada akhir 2024, didorong permintaan bahan bakar hijau serta energi bersih untuk sektor kilang minyak dan industri batu bara menjadi bahan kimia.
(bbn)































