Logo Bloomberg Technoz

Pertama, peningkatan layanan untuk mengembalikan standar full service Garuda, mulai dari pengalaman check-in, lounge, hingga keramahan awak kabin dan penyegaran in-flight entertainment yang sudah stagnan sejak 2018.

Kedua, transformasi bisnis dengan penataan rute berbasis profitabilitas, optimalisasi kerja sama code share, serta peningkatan kontribusi pendapatan kargo yang selama ini masih rendah. Ketiga, perbaikan operasional yang menekankan keselamatan, ketepatan waktu, dan percepatan pengembalian pesawat ke layanan agar reliabilitas meningkat. 

Terakhir, modernisasi teknologi karena banyak sistem Garuda dinilai usang dan belum terintegrasi, termasuk upaya mengurangi ketergantungan pada agen guna memperbaiki margin penjualan.

Seperti yang diketahui, GIAA menunda penambahan jumlah unit pesawat yang sebelumnya gencar dibicarakan. Bahkan, sebelumnya manajemen GIAA mengklaim lebih dari 10 pesawat yang akan dipesan.

GIAA memutuskan untuk mengkaji kembali penambahan jumlah pesawat yang beroperasi, seiring dengan rencana penyehatan dan jajaran pengurus yang baru saja ditunjuk. 

Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny H. Kairupan menjelaskan bahwa dari total empat pesawat yang telah mencapai tahap letter of intent (LOI), hanya satu unit yang akan tetap dilanjutkan karena sudah dibayarkan uang muka (down payment/DP).

“Dari empat pesawat, tiga kami tunda dulu, hold dulu. Yang satu ini sudah terlanjur DP. Alasannya, kami harus perbaiki dulu ini. Kalau tidak, kami akan terus bayar ke lessor,” ujar Glenny Kairupan di Garuda Sentra Operasi, Kamis (13/11/2025).

Glenny menambahkan, keputusan untuk menunda penambahan tiga pesawat lainnya dilakukan agar perusahaan dapat memperkuat kondisi keuangan dan operasional sebelum melanjutkan ekspansi armada baru.

(dhf)

No more pages