Logo Bloomberg Technoz

Selain IHSG, hanya PSEI (Filipina) yang mampu menguat dengan kenaikan 0,23%. Jadi, IHSG untuk siang ini jadi yang terbaik kedua di Benua Kuning.

Wall Street ‘Kebakaran’

Bursa saham Asia mengekor Wall Street yang ‘kebakaran’. Dini hari tadi waktu Indonesia, indeks S&P 500 ditutup anjlok 1,66%. Kemudian indeks Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite ambruk 1,65% dan 2,29%.

Arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang masih samar-samar membuat investor gamang. Memang pemerintahan Presiden Donald Trump sudah dibuka kembali usai shutdown terpanjang dalam sejarah modern Negeri Paman Sam.

Namun data yang sempat hilang tidak akan muncul begitu saja. Butuh waktu bagi pemerintah untuk kembali ke fungsi normal seperti sedia kala. Bahkan Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Kevin Hasset menegaskan sebagian data mungkin hilang.

“Saya rasa kami bisa saja mengoreksi data. Namun sepertinya kita tidak akan pernah tahu tingkat pengangguran pada Oktober karena tidak ada survei.

“Survei rumah tangga tidak dilakukan untuk periode Oktober. Jadi laporan ketenagakerjaan hanya akan tersaji separuh,” ungkap Hasset dalam wawancara dengan Fox News, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Data yang masih ‘compang-camping’ tersebut berisiko membuat bank sentral Federal Reserve kesulitan dalam menentukan arah kebijakan moneter. Gubernur The Fed Cleveland Beth Hammack, misalnya, menyebut bahwa bank sentral harus tetap memasang posisi hati-hati.

“Untuk keseimbangan, saya rasa kami perlu menerapkan sikap restriktif. Terutama untuk meredam inflasi agar sesuai dengan target,” tegasnya, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Sedangkan Gubernur The Fed Minneapolis Neel Kashkari menyebut dirinya masih terbelah dalam melihat kemungkinan arah suku bunga acuan pada Desember. 

“Bukti-bukti anekdotal dan data yang kami peroleh menunjukkan aktivitas ekonomi masih berdaya tahan, lebih dari yang saya perkirakan. Oleh karena itu, keputusannya adalah mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat Oktober.

“Sejak saat itu, data yang ada menunjukkan hal yang kurang lebih sama. Untuk Desember, saya bisa melihat mengapa kami menurunkan suku bunga. Namun saya juga bisa memahami jika kami kemudian mempertahankan suku bunga. Kita lihat saja,” papar Kashkari dalam wawancara dengan Bloomberg News.

Sikap The Fed yang masih gamang tersebut kemudian menular ke pasar. Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5-3,75% dalam rapat Desember adalah 52,2%. Adapun probabilitas suku bunga bertahan di 3,75-4% adalah 47,8%. Peluang yang hampir sama besar.

Perkembangan ini membuat pelaku pasar kemudian menerapkan sikap wait and see. Instrumen berisiko, terutama di negara berkembang, belum menjadi pilihan utama. Ini yang kemudian membuat mayoritas bursa saham Asia merona dan penguatan IHSG relatif terbatas.

(aji)

No more pages