“Kalau kebetulan tahun ini kan kita baru mulai ya untuk produksi emasnya. Jadi kita belum full capacity,” ujarnya.
Di lain sisi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan PTFI sudah mengajukan pembukaan kembali sebagian tambang di kompleks Grasberg usai penangguhan operasional akibat insiden longsor beberapa waktu lalu.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut kementeriannya siap mengizinkan operasional PTFI di dua tambang yang tidak terdampak longsor, yakni; Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ), jika perusahaan bisa meyakinkan pemerintah.
“Sudah, sepertinya sudah,” kata Tri, menegaskan Freeport sudah mengajukan pembukaan kembali operasional dua tambang yang tak terdampak, di Kementerian ESDM, Senin (10/11/2025),
“Kalau misalnya tidak terdampak ya boleh-boleh saja, tetapi mitigasinya seperti apa itu yang kita mau tahu,” lanjut dia.
Ditemui terpisah awal pekan ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan Kementerian ESDM sedang melakukan kajian kemungkinan untuk mengoperasikan tambang bawah tanah Freeport yang tidak terdampak longsoran.
Bahlil menyebut jika seluruh tambang Freeport tidak beroperasi, dampaknya terhadap pendapatan negara, pendapatan daerah, karyawan setempat, hingga kontinuitas smelter perseroan akan signifikan.
“Sekarang tim kita masih di sana, makanya saya belum berani untuk ngomong secara menyeluruh karena timnya kita belum kasih laporan,” kata Bahlil di Kementerian ESDM.
Dia juga menyatakan kementeriannya masih melakukan investigasi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave.
PTFI hingga kini masih belum melaporkan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026, padahal tenggatnya akan jatuh pada 15 November 2025.
Freeport sendiri sebelumnya menangguhkan operasi tambang emas dan tembaga Grasberg sejak insiden longsor di Grasberg Block Cave pada awal September. Operasional tambang bawah tanah GBC diperkirakan baru dapat pulih sepenuhnya pada 2027.
Dalam keterangan resminya, Freeport-McMoRan Inc. menyebut insiden longsoran lumpur bijih telah merusak sejumlah infrastruktur pendukung produksi di area GBC.
Akibatnya, PTFI terpaksa menunda kegiatan produksi dalam jangka pendek pada kuartal IV-2025 hingga sepanjang 2026 di area tambang tersebut.
Adapun, badan bijih GBC mewakili 50% dari cadangan terbukti dan terduga PTFI per 31 Desember 2024, serta sekitar 70% dari proyeksi produksi tembaga dan emas hingga 2029.
Saat ini, PTFI memperkirakan tambang Big Gossan dan Deep MLZ yang tidak terdampak dapat kembali beroperasi pada pertengahan kuartal IV-2025, sementara pengembalian operasi bertahap tambang GBC dijadwalkan pada paruh pertama 2026.
Konsekuensinya, penjualan tembaga dan emas PTFI bakal terbatas pada kuartal IV-2025, jauh di bawah estimasi sebelumnya yaitu 445 juta pon tembaga dan 345.000 ons emas.
Sementara itu, pembukaan kembali kegiatan operasi GBC dimulai di tiga blok produksi di antaranya PB2 pada paruh pertama 2026, disusul PB3 dan PB1S pada paruh kedua 2026 dan PB1C menyusul pada 2027.
-- Dengan asistensi Sultan Ibnu Affan
(mfd/wdh)






























