Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan kinerja ekspor batu bara itu sejalan dengan koreksi ekspor bahan bakar mineral (HS 72) ke China dan India.

Adapun, ekspor bahan bakar mineral ke China anjlok 29,33% menjadi US$6,86 miliar dan ekspor ke India susut 25,42% ke level US$4,12 miliar.

“Nilai ekspor nonmigas China sebesar US$46,47 miliar didominasi besi dan baja,” kata Pudji.

Kendati demikian, kinerja ekspor komoditas nonmigas unggulan Indonesia lainnya seperti besi dan baja serta CPO dan turunnya kompak mencatatkan penguatan.

Ekspor besi dan baja lompat 11,81% ke level US$21,01 miliar dari posisi tahun sebelumnya di angka US$18,79 miliar.

Selain itu, kinerja ekspor CPO dan turunannya melonjak 32,40% ke level US$18,14 miliar, dari posisi periode tahun sebelumnya di angka US$13,70 miliar.

“Nilai ekspor CPO dan turunannya naik 32,40% secara kumulatif,” tuturnya.

Secara keseluruhan, neraca perdagangan barang Indonesia pada September 2025 mengalami surplus sebesar US$4,34 miliar.

Kinerja neraca perdagangan September di bawah ekspektasi seperti yang tergambar dari konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperkirakan neraca dagang Indonesia pada September akan mencatat surplus US$ 4,47 miliar. Ini merupakan neraca dagang yang terendah sejak Juli 2025. 

Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$1,64 miliar dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak. 

Perluasan Pasar

Sebelumnya, Kementerian ESDM meminta pengusaha menjajaki pasar alternatif di kawasan Asia Tenggara (Asean), menyusul anjloknya ekspor batu bara akibat merosotnya permintaan dari China dan India.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) untuk menjajaki kemungkinan pasar baru di Asean.

“Asia itu utamanya untuk Asean coba dijajakin, kita sudah ngomong juga dengan APBI, coba dijajakin misalnya Vietnam, Malaysia, Thailand, terus kemudian Filipina,” kata Tri saat ditemui usai rapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/9/2025).

Tri mengatakan koreksi ekspor batu bara yang cukup dalam tahun ini disebabkan karena permintaan yang susut dari dua importir utama; India dan China.

Menurut Tri, kesempatan ekspor ke pasar alternatif di Asean itu cukup terbuka lebar lantaran sejumlah negara di kawasan masih mengimpor batu bara dari Rusia.

“Kalau misalnya diambil dari Rusia kan dia kejauhan juga transportasi, itu dijajakin seperti apa,” kata Tri.

Dia berharap pengusaha batu bara domestik bisa mulai penetrasi ke pasar baru di kawasan Asean pada sisa tahun ini.

(naw)

No more pages