Logo Bloomberg Technoz

Kedudukan Jassin sebagai kritikus dan esais menjadi sangat kuat sehingga dijuluki sebagai "Paus Sastra Indonesia". Koleksi pribadi dokumen sastranya kemudian terkumpul di Pusat Dokumentasi Sastra H.B.
Jassin, sebuah lembaga banyak berjasa dalam pendokumentasian sastra Indonesia dan menjadi salah satu pusat penelitian sastra Indonesia yang penting.

Pada 1970, Jassin - pemimpin redaksi majalah Sastra - pernah diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman bersyarat satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Ia dituduh menghina agama Islam karena bertanggung jawab memuat cerpen Kipanjikusmin "Langit Makin Mendung" dalam majalah Sastra, Agustus 1968. Cerpen itu menimbulkan sikap pro dan kontra di antara umat Islam dan para sastrawan. Bahkan, majalah Sastra Agustus 1968 sempat disita dan dilarang beredar oleh Kejaksaan Tinggi Medan di daerah karena pemuatan cerpen itu.

H.B. Jassin menamatkan pendidikan HIS Gorontalo pada 1923, HBS-B selama 5 tahun di Medan pada 1939, dan Fakultas Sastra, Universitas Indonesia pada 1957. Kemudian, ia memperdalam pengetahuan dalam bidang Ilmu Perbandingan Kesusasteraan di Universitas Yale, Amerika Serikat pada 1958–1959. Ia kemudian menerima Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia pada 1975 karena jasanya dalam bidang sastra Indonesia. 

Buku sastra yang ditulis H.B. Jassin cukup banyak, antara lain adalah Angkatan 45 (1951), Tifa Penyair dan Daerahnja (1952), Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai jilid I—IV (1954, 1967; edisi baru 1985), Kesusastraan Dunia dalam Terdjemahan Indonesia (1966) Heboh Sastra 1968: Suatu Pertanggungjawaban (1970). Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia (1963), Pengarang Indonesia dan Dunianja (1963),  Surat-Surat 1943—1983 (1984), Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa (1993), dan Koran dan Sastra Indonesia (1994).

Dia juga menerjemahkan buku-buku yang ada yang di luar bidang sastra, salah satunya Sepuluh Tahun Koperasi sebagai terjemahan dari Tien Jaren Cooperatie oleh R.M. Margono Djojohadikusumo. Perlu diketahui, R.M Margono Djojohadikusumo merupakan kakek Presiden Prabowo Subianto. 

H.B. Jassin menerima Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia pada 1969. Pada 1972 ia mendapat Cultural Visit Award dari pemerintah Australia. Pada waktu itu selama delapan minggu ia mengunjungi pusat-pusat pengajaran bahasa dan sastra Indonesia/Malaysia di Australia. Dia menerima hadiah Martinus Nijhoff dari Bernhard Fonds, Belanda pada 1973; Hadiah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia pada 1983; Hadiah Magsaysay dari Yayasan Magsaysay, Filipina, pada 1987. Pada 1994, dia menerima Bintang Mahaputra Nararaya dari Pemerintah Indonesia.

(dov/frg)

No more pages