Sebagai kepala kampung, Demmatande kemudian memutuskan untuk menolak kerja rodi dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bersama warganya, mereka kemudian membangun Benteng Salu Banga yang menjadi pusat perlawanan dan sulit ditembus pasukan Belanda.
Benteng tersebut berulang kali mendapatkan serangan pasukan Belanda yang memiliki dan menggunakan persenjataan modern. Namun, Demmatande bersama 29 personil pejuang di kampungnya berhasil mematahkan serang tersebut.
Namun, Belanda terus menambah jumlah personil tiap kali gagal menembus Benteng Salu Banga. Akhirnya, mereka setidaknya menyiapkan 300 tentara yang berasal dari pasukan Belanda di Mamuju, Enrekang, Parepare, dan Makassar.
Tentara Belanda terus melakukan serangan selama berhari-hari dan menyusupkan sejumlah mata-mata untuk mencari celah terhadap benteng tersebut, Oktober 1914. Hingga akhirnya, karena sejumlah persoalan dan masyarakat; termasuk kelaparan, pertahanan Demmatande dan Benteng Salu Banga jebol.
Belanda berhasil merangsek masuk dan menembak mati 24 dari 30 pejuang di benteng tersebut. Salah satunya, Demmatande. Kematian tersebut justru semakin mengobarkan semangat para pejuang di Sulawesi Barat. Sejumlah pejuang di Paladan melanjutkan perlawanan dengan perang gerilya; beberapa kelompok pejuang di sejumlah wilayah pun membangun benteng untuk melawan Belanda.
(dov/frg)




























