“Hingga Juli 2025, jumlah talenta digital Indonesia baru mencapai 9,3 juta orang. Sementara proyeksi kebutuhan [pada 2030] adalah sebesar 12 juta, sehingga ada gap, ada defisit hampir 3 juta orang,” ungkap Agus.
Meskipun secara jumlah talenta digital Indonesia mengalami defisit, dari sisi proporsi profesional dengan keterampilan AI, Indonesia sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Berdasarkan Artificial Intelligence Index Report 2025, yang diterbitkan oleh Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence, Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat penetrasi keterampilan AI tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Di tingkat global, lanjut Agus, Indonesia masuk dalam jajaran 10 besar negara dengan perubahan kompetensi bidang AI paling tinggi di dunia. Agus menilai kenaikan ini tergolong baik, karena sejak 2016-2024 lalu terdapat peningkatan sebesar 191%.
“Peringkat kita ini, peringkat Indonesia berdasarkan data, ini berada di atas Iceland (Islandia), Uruguay, Argentina, dan UAE (Uni Emirat Arab), serta Kanada. Namun masih berada di bawah beberapa negara lainnya seperti India, Brasil, Turki, dan lain sebagainya,” tutur dia.
(far/wep)
































