Logo Bloomberg Technoz

"Jadi 80% lebih kalau dari seluruh provinsi kita sudah [terkoneksi internet], seluruh kabupaten juga sudah, yang belum adalah di tingkat desa," ungkap Meutya. 

Diberitakan sebelumnya, Menteri Komdigi tersebut menyatakan terdapat sekitar 60 juta warga belum terkoneksi internet di Indonesia. Pemerintah mengeklaim kini tengah mempercepat pembangunan konektivitas digital sampai ke desa-desa tertinggal lewat kolaborasi lintas kementerian.

"Sekitar 60 juta jiwa belum terkoneksi dengan internet sehingga kita perlu melakukan percepatan karena akses terhadap informasi merupakan hak asasi manusia sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945," kata Meutya dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (23/10/2025).

Khusus rapor pemerintahan dalam satu tahun ini, Kemkomdigi menyatakan sudah melakukan berbagai upaya konkret dalam memperluas konektivitas. Antara lain membangun stasiun pemancar (BTS) dan titik akses di Papua, menyelenggarakan lelang frekuensi, serta menjalin kerja sama dengan operator seluler untuk pemerataan akses di seluruh wilayah Indonesia. 

"Transformasi digital harus bisa dirasakan di tingkat terkecil hingga ke desa-desa," ujar Meutya.

Pemerataan akses internet, khususnya di wilayah pedesaan menjadi tantangan terbesar Indonesia. Apalagi di era digital akses internet adalah hak dasar masyarakat, kata Center for Indonesian Policy Studies (CIPS).

"Tanpa aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat, transformasi digital hanya akan memperlebar kesenjangan ekonomi yang menyisakan kelompok rentan," urai CIPS dalam catatan di awal kuartal kedua 2025.

Peneliti CIPS Muhammad Nidhal turut menyoroti kualitas akses internet yang harus jadi pertimbangan lebih konkrit dan tidak cukup berpuas atas data 80% penetrasi akses digital di seluruh wilayah Indonesia.

"Data APJII menemukan bahwa penetrasi internet di perdesaan hanya mencapai 30,5%, dibandingkan dengan 69,5% di daerah perkotaan," ternag CIPS. "Terdapat desa-desa yang berada di daerah tertinggal, terluar dan terdepan atau daerah 3T, dan desa yang menghadapi kondisi ekstrim secara geografis dan spasial."

(far/wep)

No more pages