Seorang pejabat Israel mengatakan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance akan mendampingi mediator Gedung Putih Steve Witkoff dan Jared Kushner ke kawasan tersebut pekan ini, menandakan fokus Washington untuk mempertahankan gencatan senjata yang disepakati pada 10 Oktober lalu.
Kedutaan Besar AS di Yerusalem belum memberikan komentar.
Dalam rencana perdamaian Trump yang didukung komunitas internasional, gencatan senjata tersebut dimaksudkan untuk membawa Hamas melucuti senjata dan menyerahkan pemerintahan Gaza kepada otoritas Palestina alternatif di bawah pengawasan asing. Namun Hamas menolak syarat tersebut.
Sejauh ini, implementasi perjanjian baru mencakup penarikan pasukan dan tank Israel ke “garis kuning” yang masih mencakup lebih dari separuh wilayah Gaza. Kondisi itu memungkinkan warga sipil Palestina di wilayah lain mulai memperbaiki kehidupan mereka, sementara Hamas mengembalikan sandera hidup ke Israel sesuai kesepakatan.
Hamas mengklaim setidaknya 27 warga Palestina tewas dalam sepekan terakhir akibat serangan Israel. Sementara pejabat Israel menyebut pasukannya menembak untuk mencegah upaya penyusupan di sepanjang garis kuning, yang kini ditandai dengan tiang berwarna sebagai batas peringatan.
Kantor berita resmi Palestina, WAFA, mengutip sumber medis yang menyebut pasukan Israel menewaskan 44 orang di berbagai wilayah Jalur Gaza pada Minggu.
Dalam insiden hari yang sama, pasukan Palestina menembakkan roket anti-tank dan senjata api ke arah tentara Israel yang beroperasi di Rafah, wilayah selatan Gaza. Dua tentara Israel dilaporkan tewas dan dua lainnya terluka. Insiden serupa sempat terjadi pada Jumat sebelumnya, namun hanya direspons dengan tembakan kecil.
Kali ini, serangan udara Israel menjangkau hingga Gaza City, sekitar 30 kilometer ke utara. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuduh Hamas melanggar gencatan senjata dan memerintahkan agar dilakukan “tindakan tegas terhadap target teroris di Jalur Gaza.” Saksi mata Palestina mengatakan setidaknya lima orang tewas. Warga Gaza yang berada di zona tempur diminta segera mengungsi ke arah barat.
Hamas menyatakan masih berkomitmen pada gencatan senjata dan mengaku kehilangan kontak dengan kelompok pejuang yang beroperasi di Rafah, sehingga tidak bisa bertanggung jawab atas tindakan mereka.
IDF kemudian menyampaikan pernyataan bahwa pihaknya telah “memulai kembali penegakan gencatan senjata” dan akan “merespons dengan tegas setiap pelanggaran.”
Namun pejabat Hamas, Ezzat Al-Risheq, menuduh Israel justru melanggar kesepakatan lebih dulu.
“Israel terus melanggar perjanjian dan menciptakan alasan lemah untuk membenarkan kejahatannya,” ujarnya melalui kanal Telegram Hamas.
Meski seluruh sandera yang masih hidup telah dibebaskan, 16 sandera lainnya yang tewas dalam serangan 7 Oktober 2023 atau meninggal dalam dua tahun terakhir masih belum ditemukan. Hamas mengatakan membutuhkan peralatan khusus untuk menemukan jasad mereka di reruntuhan Gaza, namun pada Minggu mengumumkan telah menemukan satu jasad lagi.
Israel menuduh Hamas menunda-nunda dan pada Sabtu memutuskan untuk menunda tanpa batas waktu pembukaan kembali terminal Rafah di perbatasan Gaza–Mesir bagi bantuan kemanusiaan. Sementara arus bantuan melalui perbatasan Israel meningkat, pihak Palestina menyebut volumenya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk Gaza yang terpuruk.
“Kami belum mengakhiri perang ini. Jika Hamas tidak menyerahkan senjatanya setelah semua sandera dipulangkan, kami akan kembali berperang,” kata Miri Regev, Menteri Transportasi Israel sekaligus anggota kabinet keamanan Netanyahu, kepada Army Radio.
Trump sebelumnya memecah tradisi diplomasi AS dengan melibatkan langsung Hamas, langkah yang disebut membantu tercapainya kesepakatan damai. Namun setelah menyatakan perang dua tahun itu berakhir, sikap Trump kembali mengeras dalam beberapa hari terakhir.
Trump mengecam tindakan keras internal Hamas, memperingatkan bahwa jika hal itu terus berlanjut, “kami tidak punya pilihan selain menyerang dan membunuh mereka.” Hamas berdalih operasi tersebut adalah penegakan hukum di wilayah yang telah ditinggalkan pasukan Israel.
Kesepakatan Trump didukung oleh sejumlah negara Arab, Muslim, dan Barat — beberapa di antaranya telah menyatakan minat untuk berpartisipasi dalam pasukan stabilisasi pascaperang di Gaza.
Kini, satuan tugas multinasional tengah dibentuk di Israel, dengan delegasi militer dari sedikitnya dua negara bergabung dalam operasi yang dipimpin AS. Kementerian Pertahanan Jerman pada Sabtu mengonfirmasi telah mengirim tiga prajurit ke Pusat Koordinasi Sipil-Militer di selatan Israel.
Survei Channel 12 TV Israel pada Jumat menunjukkan 36% warga Israel menilai negaranya menang dalam perang tersebut, sementara 9% menganggap Hamas menang, dan 48% menyebut tidak ada pemenang.
Netanyahu, yang menyatakan akan mencalonkan diri kembali pada pemilu 2026, tampaknya tidak terburu-buru melanjutkan konflik yang telah melemahkan militer wajib dan membuat Israel semakin terisolasi di mata dunia.
Selama dua tahun perang, lebih dari 67.000 orang di Gaza tewas. Sementara di pihak Israel, 1.200 orang tewas dalam serangan 7 Oktober, dan lebih dari 250 tentara tewas selama pertempuran di Gaza.
(bbn)






























