Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (23,4% dari total utang luar negeri pemerintah), Jasa Pendidikan (17,2%), Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (15,7%), Konstruksi (12,3%), Transportasi dan Pergudangan (9,0%), serta Jasa Keuangan dan Asuransi (8,0%).
"Posisi utang luar negeri pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari totalnya," sebut dia.
Di sisi lain, posisi utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$194,2 miliar, atau mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,1% (yoy) pada Agustus 2025, lebih besar dibanding kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,2% (yoy).
Kondisi tersebut bersumber dari utang luar negeri bukan lembaga keuangan yang terkontraksi sebesar 1,6% (yoy) dan utang luar negeri lembaga keuangan yang tumbuh melambat menjadi sebesar 0,8% (yoy).
Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan & Penggalian, dengan pangsa mencapai 81,2% terhadap total utang luar negeri swasta.
(lav)































