Shawa menambahkan bahwa tidak ada impor bantuan pada Senin, saat Hamas membebaskan 20 sandera hidup yang ditahan dalam serangan Oktober 2023 ke Israel, maupun selama hari libur Yahudi pada Selasa. Kendaraan bantuan masuk pada Rabu, tetapi masih terlalu dini untuk mengetahui skala pastinya.
Hamas telah menyerahkan jenazah tujuh sandera dalam dua hari terakhir, sehingga sisanya 21 jenazah sandera belum ditemukan. Menurut militer, satu jenazah yang dibawa ke Israel ternyata bukan sandera.
Kesepakatan mengakhiri perang Israel-Hamas, yang diumumkan Trump awal bulan ini, bertujuan menghentikan konflik dua tahun yang telah menghancurkan Gaza dan memicu krisis kelaparan.
Hal ini diperparah oleh blokade Israel terhadap bantuan kemanusiaan, yang konon merupakan cara untuk menekan Hamas agar menyerah. Lembaga pemantau dukungan PBB menyatakan bencana kelaparan di sebagian wilayah Gaza pada akhir Agustus.
Pada Selasa, PBB mengatakan Israel melalui suratnya mengancam akan mengurangi jumlah bantuan yang masuk ke Gaza karena proses penyerahan jenazah sandera lambat. Para pemimpin PBB memandangnya sebagai ancaman terhadap keberlangsungan kesepakatan Trump. Israel belum mengonfirmasi atau membantah pernyataan itu.
"Menahan bantuan dari warga sipil bukanlah alat tawar-menawar. Memfasilitasi bantuan adalah kewajiban hukum," tegas Tom Fletcher, Koordinator Bantuan Darurat PBB dan Kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan, dalam pernyataan pada Rabu.
"Sangat penting agar kita tidak menyia-nyiakan kemajuan besar yang telah dicapai, dan kepemimpinan yang ditunjukkan."
Pada Sabtu, Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan telah mulai memperluas operasinya di Gaza, dan memiliki cukup makanan yang siap dikirim untuk memberi makan 2 juta warga selama tiga bulan. Untuk itu, mereka membutuhkan "penggunaan cepat dan efisien semua titik masuk," ungkap badan tersebut.
Meski gencatan senjata yang rapuh menghentikan serangan udara Israel, kekerasan masih membara di beberapa wilayah Gaza. Pasukan bersenjata Hamas bertempur melawan faksi-faksi Palestina yang berseteru.
Pada Minggu, video yang beredar di media sosial menunjukkan eksekusi publik terhadap enam pria yang dituduh oleh kelompok tersebut melakukan spionase dan pemberontakan.
Menurut Pusat Informasi Palestina yang berafiliasi dengan Hamas, ketegangan semakin memanas karena pasukan Israel menewaskan tujuh warga Gaza. Tentara Israel mengatakan pasukan menembaki warga Palestina yang mendekati posisi mereka karena tidak mengindahkan peringatan untuk mundur.
PBB mengatakan bahwa baik Israel maupun Hamas harus melakukan lebih banyak upaya untuk menjamin keselamatan warga sipil Palestina.
Jenazah Sandera
Perjanjian gencatan senjata menetapkan bahwa semua sandera, baik yang hidup maupun yang meninggal, akan dibebaskan sejak awal, dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengatakan di X bahwa setiap "kegagalan yang disengaja" Hamas untuk menyerahkan jenazah sandera "akan dianggap sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan, yang akan dibalas sebagaimana mestinya." Dia tidak menjelaskan apa balasan yang dimaksud.
Pejabat Hamas sebelumnya telah memperingatkan bahwa logistik yang diperlukan untuk mengevakuasi jenazah sandera cukup rumit di tengah reruntuhan.
Prospek mengubah gencatan senjata di Gaza menjadi perdamaian yang dibayangkan Trump bergantung pada berbagai faktor, termasuk pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel yang menguasai sekitar 53% wilayah kantong tersebut, serta pembentukan pemerintah sementara Palestina yang teknokratis dan mekanisme rekonstruksi.
Hamas telah menunjukkan kesediaan untuk menyerahkan sisa-sisa kekuasaannya, tetapi tidak dengan senjatanya.
"Kami mendesak Hamas untuk segera menghentikan kekerasan dan penembakan" terhadap warga Palestina, kata Komandan Komando Pusat AS Brad Cooper di X, seraya menambahkan bahwa kelompok tersebut harus melucuti senjata.
(bbn)






























