Tether berusaha memanfaatkan peluang. Setelah membayar denda sebesar US$41 juta untuk menyelesaikan tuduhan bahwa mereka telah menyembunyikan cadangan asetnya, perusahaan ini absen dari pasar AS selama bertahun-tahun. Baru-baru ini, Tether menunjuk Bo Hines, mantan penasihat kripto Gedung Putih, untuk memimpin USAT.
Tether telah menghasilkan keuntungan besar dengan menempatkan cadangan yang mendukung USDT dalam aset likuid seperti obligasi pemerintah AS, dan memperoleh bunga. Perusahaan yang berbasis di El Salvador ini mencatat laba sebesar US$4,9 miliar pada kuartal kedua, menurut posting blog perusahaan pada Juli. Dengan kas ‘tebal’, perusahaan telah berinvestasi dalam berbagai industri, termasuk kecerdasan buatan, energi, dan komoditas.
Pernyataan Ardoino memberikan gambaran tentang strategi di balik investasi tersebut. Wallet Rumble akan menjadi “pusat” pertumbuhan stablecoin Tether serta produk emas tokenized-nya, katanya. Rumble belum merespons permintaan komentar.
Tether saat ini berusaha mengumpulkan hingga US$20 miliar untuk kepemilikan 3%, yang dapat membuat valuasi perusahaan mencapai US$500 miliar, seperti dilaporkan Bloomberg News pekan lalu. Ardoino menggambarkan valuasi tersebut sebagai diskon, tanpa menjelaskan perhitungannya.
Jikalau berhasil, sebagian dana akan digunakan untuk platform AI yang direncanakan Tether, yang dirancang untuk berjalan bahkan di smartphone berbiaya rendah di pasar emerging seperti Afrika dan Amerika Selatan, kata Ardoino.
(bbn)































