Logo Bloomberg Technoz

Raksasa Kripto Tether Bersiap Galang Dana Hingga Rp333,6 Triliun

News
24 September 2025 11:10

CEO Tether, Paolo Ardoino. (Nathan Laine/Bloomberg)
CEO Tether, Paolo Ardoino. (Nathan Laine/Bloomberg)

Bloomberg News

Bloomberg, Tether Holdings SA, penerbit stablecoin terbesar di dunia, sedang melakukan pembicaraan dengan investor untuk menggalang dana hingga Rp333,6 triliun (US$20 miliar). Ini akan menjadi sebuah kesepakatan yang berpotensi mendorong perusahaan kripto tersebut masuk ke jajaran perusahaan swasta paling bernilai di dunia.

Perusahaan yang berbasis di El Salvador itu tengah mencari pendanaan antara Rp250,2 triliun (US$15 miliar) hingga Rp333,6 triliun (US$20 miliar) dengan imbalan sekitar 3% saham melalui skema private placement, menurut dua orang yang mengetahui hal tersebut.

Seorang sumber lain yang terlibat dalam proses ini memperingatkan bahwa angka tersebut merupakan target maksimal, dan jumlah akhirnya bisa jauh lebih rendah. Negosiasi masih dalam tahap awal dan detail dari rencana investasi dapat berubah, kata para sumber yang tidak berwenang berbicara secara terbuka.

Bergantung pada besarnya saham yang ditawarkan, kesepakatan ini bisa membuat valuasi perusahaan naik menjadi sekitar Rp8.339 triliun (US$500 miliar), sehingga menempatkannya sejajar dengan OpenAI dan SpaceX milik Elon Musk. Hal ini diyakini akan menjadi sebuah pencapaian luar biasa bagi bisnis kripto yang regulasinya masih longgar, bahkan ketika pesaing bermunculan dan penurunan suku bunga AS mengancam laba besar mereka. Pesaing terdekatnya, Circle Internet Group Inc., penerbit stablecoin yang diperdagangkan di bursa, bernilai sekitar Rp500,3 triliun (US$30 miliar) pada Selasa sore (23/9/2025).

Transaksi ini akan melibatkan penerbitan saham baru, bukan penjualan saham oleh investor lama, kata para sumber. Cantor Fitzgerald bertindak sebagai penasihat utama, tambah mereka.

CEO Tether Paolo Ardoino mengatakan perusahaan sedang mengevaluasi penggalangan dana dari sekelompok investor profil tinggi “untuk memaksimalkan skala strategi perusahaan di seluruh lini bisnis yang ada maupun yang baru,” termasuk stablecoin, AI, perdagangan komoditas, energi, komunikasi, dan media, dalam sebuah unggahan di X pada Rabu.

Namun demikian, juru bicara Cantor menolak berkomentar.

Tether berada di garis depan stablecoin, jenis aset digital yang mengaitkan nilainya dengan mata uang fiat. Token USDT miliknya dipatok ke dolar AS dengan nilai pasar Rp2.868 triliun (US$172 miliar). Angka itu jauh lebih besar dibandingkan USDC milik Circle, stablecoin terbesar kedua, yang bernilai sekitar Rp1.233 triliun (US$74 miliar).

Tether meraup keuntungan besar dengan menempatkan cadangan yang mendukung tokennya pada aset mirip kas, termasuk obligasi pemerintah AS, dan memperoleh bunga. Perusahaan mencatat laba Rp81,7 triliun (US$4,9 miliar) pada kuartal kedua, menurut unggahan blog perusahaan pada Juli. Ardoino baru-baru ini mengklaim Tether memiliki margin laba 99%. Namun, angka yang dikutip Tether tidak tunduk pada standar pelaporan yang sama dengan perusahaan publik.

Dalam beberapa bulan terakhir, Tether mempersiapkan langkah untuk kembali ke AS guna memanfaatkan kebijakan pro-kripto Presiden Donald Trump. Perusahaan baru-baru ini mengumumkan rencana untuk stablecoin yang diatur di AS dan menunjuk Bo Hines, mantan pejabat kripto Gedung Putih, untuk memimpinnya.

Sebelum masa jabatan kedua Trump, Tether cukup absen dari AS setelah berselisih dengan regulator. Pada 2021, perusahaan membayar denda Rp684 miliar (US$41 juta) untuk menyelesaikan tuduhan bahwa mereka telah salah menggambarkan cadangannya.

Calon investor dalam beberapa minggu terakhir telah diberi akses ke ruang data untuk memutuskan apakah akan berpartisipasi dalam penggalangan dana baru ini, kata para sumber yang mengetahui hal tersebut. Mereka memperkirakan kesepakatan akan rampung sebelum akhir tahun.