"Hamas akan melakukannya atau tidak, dan jika tidak, itu akan menjadi akhir yang sangat menyedihkan." Mereka hanya memiliki waktu "sekitar tiga atau empat hari [untuk memutuskan]," imbuh Trump.
Israel pernah mengklaim bahwa agresinya bisa berakhir besok jika Hamas memulangkan para sandera, melucuti senjata, dan pergi dari Gaza ke pengasingan. Namun, menteri-menteri koalisi sayap kanan Netanyahu ingin mencaplok Gaza dan Tepi Barat—yang dijanjikan Trump akan dicegahnya.
Rencana 20 poin Trump, yang diumumkan pada konferensi pers bersama di Gedung Putih dengan PM Netanyahu, memuat unsur-unsur baru, seperti tawaran amnesti bagi setiap anggota Hamas yang menyerahkan senjata dan berkomitmen untuk hidup berdampingan.
Proposal ini juga tak memasukan gagasan Trump sebelumnya untuk mengusir warga Gaza ke pengasingan, lalu menjanjikan meningkatkan bantuan dalam jumlah besar dan keterlibatan global untuk membangun kembali wilayah pesisir yang hancur.
Meski begitu, usulan baru ini tidak menawarkan status kemerdekaan Palestina, yang merupakan tujuan yang didukung oleh sebagian besar dunia internasional.
Pihak mediator Mesir dan Qatar telah menyerahkan proposal AS kepada Hamas, seperti dilaporkan stasiun TV pemerintah Mesir, Al Qahera, mengutip pejabat keamanan. Kelompok tersebut belum menyatakan apakah menerima atau menolak proposal tersebut.
Qatar dan Turki—sekutu Hamas—menyambut proposal Trump sebagai langkah positif menuju akhir perang, dalam pernyataan yang ditandatangani bersama oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara mayoritas Muslim lainnya. Komentar bersama ini menandakan kelompok yang didukung Iran tersebut akan berada di bawah tekanan untuk menerima kesepakatan.
(ros)





























